KETIK, PACITAN – Suhu udara panas terasa menyengat di sejumlah wilayah Kabupaten Pacitan dalam beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan menyebut hingga kini belum ada pengajuan bantuan distribusi air bersih dari masyarakat.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Radite Suryo Anggoro mengatakan kondisi cuaca panas saat ini masih dipengaruhi masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
“Ini masih masa peralihan,” kata Radite berdasarkan rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Senin, 25 Mei 2026.
Menurutnya, perubahan cuaca selama masa pancaroba membuat suhu udara terasa lebih panas pada pagi hingga siang hari, namun masih berpotensi turun hujan pada sore atau malam hari.
“Jadi pagi hingga siang akan panas, nanti sore sampai malam masih ada potensi hujan,” ujarnya.
Ia mengatakan, suhu udara siang hari di sejumlah wilayah Jawa Timur saat ini dapat mencapai 33 derajat Celsius dan turun menjadi sekitar 30 hingga 31 derajat Celsius pada sore hingga malam hari.
Kondisi tersebut membuat hawa panas terasa lebih menyengat dibanding beberapa bulan sebelumnya saat musim hujan masih berlangsung.
Berdasarkan prakiraan, awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Timur diperkirakan mulai berlangsung pada akhir Mei hingga awal Juni 2026.
Sementara puncak musim kemarau diprediksi terjadi sekitar Agustus mendatang.
“Belum ada rilis terbaru, tapi dari BMKG kemungkinan puncak kemarau terjadi Agustus,” jelasnya.
Radite mengatakan BPBD Pacitan saat ini masih terus melakukan pemantauan perkembangan cuaca dan kondisi sumber air di sejumlah wilayah rawan kekeringan.
Meski suhu udara mulai meningkat, pihaknya memastikan belum ada laporan krisis air bersih maupun permintaan dropping air dari masyarakat.
BPBD juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem selama masa pancaroba.
"Hujan lokal masih berpotensi turun secara tiba-tiba dan dapat disertai petir maupun angin kencang," imbaunya. (*)
