KETIK, JEMBER – Warga Dusun Kasengan, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, harus berjuang memenuhi kebutuhan air bersih setelah kekeringan melanda wilayah mereka selama lebih dari lima bulan. Selain kesulitan mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari, petani setempat juga menghadapi penurunan hasil panen akibat minimnya pengairan.
Ketua RT 001/RW 006 Dusun Kasengan, Suhermanto, mengatakan sekitar 100 kepala keluarga (KK) di wilayahnya terdampak kekeringan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengambil air dari sungai terdekat, bahkan mencari sumber air hingga ke desa sebelah.
Air yang mereka dapatkan digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak dan minum hingga mandi. Suhermanto pun mengaku harus pergi ke sungai untuk membersihkan diri.
"Saya sendiri kalau mandi ke sungai," kata dia saat ditemui pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Menurut Suhermanto, kekeringan tahun ini terasa lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. Warga telah menyampaikan keluhan tersebut melalui kanal aspirasi Wadul Gus' E agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember segera mengambil langkah penanganan.
Salah seorang warga bernama Mamak menyampaikan laporan itu. Pemerintah kemudian menindaklanjutinya melalui Kepala Desa Gumuksari untuk melakukan survei ke lokasi terdampak.
Sehari setelah survei, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember menyalurkan bantuan berupa empat tandon air untuk warga di satu RT. Setiap tandon memiliki kapasitas 1.200 liter.
Namun, bantuan tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga secara merata. Selain jumlah tandon yang terbatas, pasokan air juga baru datang setiap empat hari sekali. Akibatnya, air yang tersedia habis sebelum bantuan berikutnya tiba.
Warga tidak hanya menggunakan air untuk memasak dan minum, tetapi juga untuk mandi serta kebutuhan rumah tangga lainnya. Kondisi itu membuat mereka harus mengatur pemakaian air di tengah keterbatasan pasokan.
Kekeringan Hambat Pertanian Tembakau
Dampak kekeringan juga dirasakan petani di Dusun Kasengan. Minimnya air untuk mengairi lahan membuat sebagian warga memilih tidak menanami sawahnya setelah panen sebelumnya.
Suhermanto mengatakan sejumlah petani mulai kesulitan mempertahankan aktivitas pertanian karena tidak memiliki cukup air untuk mengairi lahan.
"Tetangga saya ini, satu panen sudah enggak ditanami (sawahnya) sudah," ujarnya.
Petani tembakau setempat, Muhammad Ferdiansyah, 21 tahun, juga mengeluhkan penurunan hasil panen tahun ini. Dari sekitar 4.500 benih tembakau yang ditanam, dia hanya memperoleh hasil penjualan sebesar Rp 8 juta.
Pendapatan tersebut turun dibandingkan musim panen sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari Rp 10 juta. Ferdiansyah menduga keterbatasan pengairan membuat bobot tembakau berkurang saat ditimbang.
"Apalagi kan enggak ada hujan ini, bisa ringan tembakau," tuturnya.
Petani lainnya, Dedi Sumantono, mengaku mengalami kekurangan air sejak Juni untuk mengairi tanaman tembakau di lahannya. Meski harga tembakau tahun ini dinilai sudah bagus, hasil yang diperoleh tetap tertekan akibat penurunan bobot dan banyaknya tanaman yang mati karena kekurangan air.
"Kalau masalah kerugian, petani sekarang itu banyak yang rugi," ucapnya.
Dedi menyebut pendapatannya dari panen tembakau juga merosot tajam. Dari sekitar 3.000 benih yang ditanam di lahan seluas 200 meter persegi, dia memperkirakan hasil penjualan seharusnya bisa mencapai Rp 25 juta. Namun, akibat kekeringan, pendapatannya hanya sekitar Rp 8 juta.
Kondisi tersebut membuat petani berharap pemerintah daerah membantu menyediakan sarana pengairan agar mereka tetap bisa mengelola lahan saat hujan tidak turun.
Dedi secara khusus meminta Pemkab Jember memfasilitasi mesin penyedot atau pompa air. Menurutnya, sumber air yang dapat dimanfaatkan sebenarnya tersedia, tetapi petani membutuhkan peralatan untuk mengalirkannya ke lahan pertanian.
"Harapan saya cuma satu. Minta mesin sedot yang bisa memaksimalkan petani. Di sini air yang mau disedot itu ada," tegasnya. (*)
