KETIK, SURABAYA – Bijak mengelola uang sejak dini patut dilakukan dengan tegas dan teratur, hal ini bertujuan agar semua kebutuhan dapat tercukupi.
Namun, penerapannya dalam kegiatan sehari-hari seringkali tidak dilakukan dengan disiplin terutama generasi muda.
Ketua Panitia TADEA Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) 2026, Antonius Probosanjoyo mengingatkan generasi muda untuk mulai bijak mengelola uang sedini mungkin.
"Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang baik harus ditanamkan sejak dini, yang paling tepat adalah saat seseorang sudah duduk di bangku kuliah," katanya saat ditemui dalam acara Smartfin Day Ruang Auditorium Ternate, Gedung ASEEC Tower, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Ia menambahkan, saat ini menurutnya kebanyakan anak muda dari kalangan mahasiswa khususnya, lebih banyak menghabiskan uangnya dengan kebutuhan konsumtif masa kini. "Seperti membeli kopi," imbuhnya.
Memenuhi kebutuhan seperti ini menurutnya sah saja dilakukan, kendati demikian tetap harus mulai memikirkan pentingnya mengelola uang sekaligus berinvestasi.
"Terlebih saat ini ada fenomena sandwich generation. Untuk memutus itu salah satunya dengan memiliki proteksi asuransi, agar beban finansial tidak dilimpahkan kepada generasi berikutnya di masa depan," terangnya.
Menurutnya, apabila perencanaan ini tidak dilakukan dengan baik. Maka, fenomena sandwich generation ini bak bola salju yang terus bergulir dari generasi ke generasi, tanpa bisa terputus.
"Dimana beban yang ditanggung tidak hanya orang tua dan anak, tetapi meluas ke anggota keluarga lainnya, seperti keponakan, paman atau bibi," ungkapnya.
Sementara itu berbicara mengenai asuransi jiwa, Antonius mengaku terdapat tantangan tak mudah, seperti literasi masyarakat terhadap penggunaan produk jasa keuangan.
Mengutip data yang disampaikan Ketua Bidang Literasi AAJI Wianto, Antonius mengungkapkan, tingkat inklusi keuangan telah mencapai sekitar 80 persen. Namun, tingkat pemahaman atau ketertarikan masyarakat terhadap aspek literasi masih berada di kisaran 60 persen.
"Jadi yang sudah melakukan harus diimbangi atau dibarengi dengan pemahaman yang benar-benar paham, sehingga tidak terjadi hal-hal seperti mereka tidak tahu apa yang mereka beli atau produk yang mereka gunakan mengandung risiko," terangnya.
Menurutnya proteksi asuransi kini tidak selalu identik dengan mereka yang telah memasuki usia lanjut. Berinvestasi melalui asuransi pada saat usia produktif menurutnya jauh lebih baik. (*)
