KETIK, MOJOKERTO – Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, perjalanan saya dari Mojokerto menuju Surabaya sudah dimulai. Sebagai mahasiswa yang saat ini sedang berkegiatan magang, pulang-pergi lintas kota bukan lagi hal baru.
Namun di balik rutinitas itu, ada satu pertimbangan yang selalu hadir, bagaimana menekan biaya tanpa mengorbankan aktivitas.
Saya mengambil keputusan untuk pulang-pergi Mojokerto-Surabaya semenjak semester 3, saat itu saya belum sepenuhnya berani mengandalkan TransJatim untuk berangkat.
Ada kekhawatiran yang sulit diabaikan kemacetan di jalan yang tidak bisa diprediksi. Karena itu, saya awalnya memilih naik kereta api untuk berangkat, sementara TransJatim hanya saya gunakan saat pulang. Rasanya lebih aman, meski harus mengeluarkan biaya lebih.
Setiap hari saya mulai menyadari satu hal kecil yang lama-lama terasa besar. Ongkos perjalanan yang berbeda. Tiket kereta yang harus dibeli hampir setiap hari, ditambah biaya lain-lain, perlahan terasa membebani. Sementara itu, TransJatim menawarkan sesuatu yang jauh lebih murah.
Memasuki semester 4, keputusan itu akhirnya berubah. Saya mulai mencoba menggunakan TransJatim untuk pulang-pergi sekaligus.
Awalnya ragu, tetapi perlahan menjadi terbiasa. Saya mulai menyesuaikan ritme berangkat lebih awal, memberi ruang untuk kemungkinan macet, dan lebih sabar dalam perjalanan.
Ada satu momen yang terasa kontras yaitu saat melakukan pembayaran. Ketika naik bus, saya hanya perlu menunjukkan kartu tanda mahasiswa, lalu membayar Rp2.500.
Tidak ada proses rumit, tidak ada beban pikiran soal biaya besar. Bagi pelajar, cukup dengan kartu pelajar atau bahkan dengan memakai seragam sekolah, tarif yang sama juga berlaku. Sementara penumpang umum pun hanya dikenakan Rp5.000.
Angka itu mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terasa besar. Dalam satu hari, saya hanya mengeluarkan Rp5.000 untuk perjalanan pulang-pergi Mojokerto-Surabaya. Jika dibandingkan dengan transportasi lain, selisihnya sangat terasa, apalagi jika dihitung dalam hitungan minggu hingga bulan.
Di dalam bus, suasana sering kali menjadi saksi bagaimana tarif murah ini dimanfaatkan banyak orang. Mahasiswa dengan tas ransel maupun totebagnya, pelajar yang masih mengenakan seragam, hingga pekerja yang tampak sesekali melihat jam tangan untuk memastikan waktu semuanya berada dalam satu ruang yang sama, dengan tujuan yang berbeda.
Ada kepuasan tersendiri ketika menyadari bahwa perjalanan jauh setiap hari tidak harus selalu mahal. Bahwa dengan sedikit strategi berangkat lebih awal, memilih waktu yang tepat TransJatim bisa menjadi pilihan utama, bukan sekadar alternatif.
Kini, perjalanan Mojokerto-Surabaya bukan hanya tentang sampai tujuan. Ia menjadi ruang belajar kecil tentang bagaimana mengatur prioritas antara waktu, tenaga, dan biaya. (*)
