KETIK, MOJOKERTO – Kepadatan penumpang bus TransJatim sudah menjadi pemandangan yang akrab bagi para pelanggan setianya, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Saya sendiri merupakan salah satu mahasiswa yang memilih pulang pergi Mojokerto-Surabaya daripada tinggal di kos.
Selain lebih dekat dengan keluarga, biaya transportasi yang relatif murah serta jadwal bus yang datang secara berkala, membuat TransJatim Koridor 2 menjadi pilihan utama saya untuk berangkat dan pulang setiap hari.
Pada suatu sore setelah menyelesaikan aktivitas magang di Surabaya, saya biasanya menuju Halte Dukuh Menanggal untuk menunggu bus TransJatim yang akan membawa saya pulang ke Mojokerto.
Perjalanan pulang itu sering kali memakan waktu cukup lama, terutama ketika lalu lintas sedang padat. Saat bulan Ramadan tiba, perjalanan tersebut kerap bertepatan dengan waktu berbuka puasa.
Menjelang maghrib, suasana di dalam bus pun terasa berbeda. Ketika langit mulai berubah jingga dan azan semakin dekat, bus masih melaju menyusuri jalanan menuju Mojokerto.
Di dalam bus, suasana biasanya cenderung tenang. Sebagian penumpang terlihat bersandar di kursi dengan wajah lelah, bahkan ada pula yang tertidur setelah seharian beraktivitas. Beberapa lainnya menatap layar ponsel, sesekali melirik jam untuk memastikan waktu berbuka yang semakin mendekat.
Sebagai penumpang yang sedang berpuasa, Larangan makan dan minum di dalam bus membuat saya ragu ketika waktu berbuka tiba di tengah perjalanan.
Suatu waktu, saya pernah melihat seorang ibu yang mulai membuka bungkus makanan ketika bus sedang melaju. Namun, tidak lama kemudian kondektur menghampirinya dan menegur dengan sopan, mengingatkan bahwa makan dan minum tidak diperbolehkan selama perjalanan.
Ibu tersebut menjelaskan bahwa ia sedang menjalankan puasa Senin–Kamis dan waktunya sudah tiba untuk berbuka. Setelah mendengar penjelasan itu, kondektur akhirnya mengangguk dan membiarkannya melanjutkan makan.
Pada kesempatan lain, saya juga pernah duduk di samping seorang ibu yang makan roti secara diam-diam. Ia membuka bungkus roti itu perlahan, seolah berusaha agar tidak menarik perhatian.
Ibu tersebut kemudian mengatakan kepada saya bahwa ia sedang berbuka puasa. Ketika saya bertanya mengapa tidak meminta izin saja kepada kondektur agar tidak perlu makan sembunyi-sembunyi, ia menjelaskan bahwa sebelumnya ia pernah mencoba meminta izin, tetapi tetap tidak diperbolehkan.
Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya sempat merasa bimbang, terutama pada hari pertama Ramadan. Sore itu saya berada di dalam bus TransJatim dalam perjalanan pulang ketika waktu berbuka semakin dekat. Saya terus memikirkan larangan makan dan minum di dalam bus, sambil sesekali melihat jam di ponsel.
Ketika azan maghrib tiba, kondektur tiba-tiba memberikan pengumuman dari bagian depan bus. Dengan suara lantang ia berkata, “Silakan yang ingin berbuka puasa.”
Biasanya, pengumuman yang saya dengar hanya sebatas memperbolehkan penumpang untuk berbuka tanpa menyebutkan batas waktu tertentu. Tapi, pada suatu perjalanan kemarin, kondektur menyampaikan pengumuman yang sedikit berbeda.
“Selamat malam. Silakan berbuka bagi yang menjalankan. Boleh makan dan minum selama 10 menit ya,” ujar kondektur mempersilakan buka puasa dengan menetapkan batasan waktu.
Setelah pengumuman itu terdengar, suasana di dalam bus yang semula tenang perlahan berubah. Beberapa penumpang mulai membuka botol minum atau mengambil makanan ringan yang sudah mereka siapkan sejak tadi. Suara plastik kemasan terdengar, menandai momen berbuka puasa di tengah perjalanan.
Sebagian penumpang berbuka hanya dengan air mineral atau sepotong roti. Meski sederhana dan dilakukan di dalam bus yang sedang melaju, suasana berbuka tetap terasa hangat.
Sementara itu, saya tidak membawa persiapan apa pun untuk berbuka. Tanpa air minum atau makanan ringan, saya hanya bisa menunggu hingga bus tiba di Mojokerto.
Sejak pengalaman itu, setiap kali berangkat menuju halte saya biasanya membawa camilan dari rumah. Jika lupa, saya meminta ojek yang saya pesan untuk singgah sebentar ke minimarker agar bisa membeli makanan atau minuman untuk berbuka. (*)
