KETIK, MALANG – Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan (Unikama), Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Fisika Teknologi dan Inovasi Pembelajaran Fisika melalui Rapat Terbuka Senat yang berlangsung khidmat di Aula Sarwakirti pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Pengukuhan ini menjadi capaian penting bagi akademik dan tonggak sejarah baru Unikama dalam memperkuat komitmennya pada peningkatan mutu pendidikan tinggi.
Dalam hal ini, fokus keilmuan yang diangkat masih sangat relevan di era digital, yakni integrasi teknologi modern ke dalam metodologi pembelajaran sains guna mencetak generasi yang adaptif dan inovatif.
Tepat pukul 08.30 WIB, prosesi sakral ini dimulai dengan rombongan Rektor beserta Ketua Senat Universitas memasuki ruangan acara.
Suasana semakin khidmat dengan suguhan tari beskalan khas Malang sebagai tarian penyambutan kehormatan. Tarian ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus salam salamat datang bagi para tamu penting yang memadati aula.
Acara monumental ini dihadiri oleh seluruh jajaran sivitas akademika Unikama, perwakilan pengurus PGRI, serta jajaran tokoh penting dari berbagai institusi pendidikan tinggi dan instansi kesehatan terkemuka di Indonesia. Kehadiran pimpinan perguruan tinggi papan atas turut memberikan warna dalam prosesi ini dengan ucapan selamat yang disampaikan secara langsung.
Beberapa rektor perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yang turut hadir pada acara pengukuhan ini, yakni Dr. Untung Lasitono, S.E., M.Si. (Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya), Prof. Dr. Arasy Alimudin, S.E., M.M. (Rektor Universitas Narotama Surabaya), Dr. Mochamad Taufiq, M.Pd. (Rektor Universitas PGRI Wiranegara Pasuruan), dan Dr. Imam Sujono, S.Pd., M.M. (Rektor Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung).
Tak hanya itu, jajaran pakar dan sejawat akademisi senior juga turut hadir, seperti Prof. Dr. Ade Gafar Abdullah, S.Pd., M.Si. (UPI), Prof. Dr. Hartono, M.Si. (Universitas PGRI Adi Buana Surabaya), Prof. Dr. Endang Purwaningsih (UM), dan Dr. Muhamad Nur Huda, M.Pd. (UNS).
Serta, dari sektor pelayanan publik dan kesehatan, tampak hadir Dr. dr. Mochamad Bachtiar Budianto, Sp.B, Subsp. Onk(K)., selaku Direktur Utama RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Dalam orasinya, yang berjudul berjudul "Navigasi Kecerdasan Buatan dalam Pembelajaran Fisika: Integrasi AI-Specific TPACK dan Transparansi Pedagogi di Era Digital". Prof. Sudi menjelaskan hasil riset berskala besar yang melibatkan 725 guru besar di Indonesia. Satu temuan dalam risetnya berhasil mematahkan stigma negatif mengenai guru senior yang sering dianggap gagap teknologi (gaptek) dan tidak menerima pembaruan di era digital.
Dari data riset ditemukan bahwa variable demografi seperti usia dan gender ternyata tidak terlalu mempengaruhi kompetensi teknologi.
"Yang menarik, guru yang lebih senior dan berpengalaman justru menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap penggunaan AI dan niat adopsi yang lebih kuat," tutur Prof. Sudi.
Guru senior melihat secara pragmatis bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban kerja administratif dan mendukung pengajar yang berdiferensiasi.
Meski demikian, Prof. Sudi turut memberikan kritik membangun bahwa hingga saat ini masih banyak pendidik yang terjebak di dalam "zona nyaman" dengan terus menggunakan pola lama.
Hasil riset mengungkapkan jika profil guru di Indonesia sebenernya kuat pada penguasaan materi dan cara mengajar, tetapi masuk lemah dalam hal integrasi teknologi ke dalam kurikulum.
Dalam permasalahan ini, ia menyampaikan solusi dengan menawarkan kerangka kerja bernama AI-Specific TPACK (technological pedagogical content knowledge).
Kerangka ini akan mengarahkan guru agar dapar mengombinasikan materi pembelajaran, strategi mengajar, dan teknologi AI secara tepar untuk mengkonkritkan konsep sains yang abstrak, melakukan personalisasi belajar, sert menghadirkan eksperimen lewat laboratorium virtual yang hemat biaya.
Di akhir pemaparannya, Prof. Sudi memutuskan tiga rekomendasi strategies, seperti pergeseran pelatih. Guru ke arah penguatan integrasi pedagogi, perumusan regulasi etika dan privasi data AI di sekolah, serta optimalisasi program mentoring sebaya dengan melibatkan guru senior sebagai pemimpin inovasi.
Di samping mendukung penuh era digitalisasi, Prof. Sudi menegaskan bahwa secanggih apa pun kecerdasan buatan, posisi guru selamanya tidak akan dan tidak pernah tergantikan.
"Kecerdasan buatan hanyalah sebuah alat. Dalam pendidikan fisika, AI dapat membantu kita menjelaskan hukum-hukum alam semesta dengan lebih visual, tetapi hanya seorang guru sejati yang dapat menginspirasi siswa untuk mengejar kebenaran ilmiah dengan integritas," pungkasnya.(*)
