KETIK, MALANG – Mahasiswa Fakultas Teknik Kimia Universitas Brawijaya (UB) mengenalkan pakan ikan apung berbasis limbah organik dan tanaman obat keluarga (Toga) kepada masyarakat RT 18 RW XI Kelurahan Merjosari, Kota Malang, pada Minggu, 8 November 2026.
Berdasarkan fakta di lapangan, sebanyak 60–75 persen dari total biaya budidaya dihabiskan untuk pakan komersial. Padahal, pakan merupakan kunci utama dalam pertumbuhan ikan. Pakan berkualitas tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga menjaga kesehatan ikan agar siap panen lebih cepat.
Oleh karena itu, penghematan pada komponen pakan menjadi kunci keberhasilan usaha peternakan. Pakan ikan apung berbasis limbah organik dan toga hadir sebagai solusi pakan berkualitas yang dapat menekan biaya produksi.
Dalam pembuatan pakan ikan apung, limbah organik menjadi potensi sumber daya lokal yang melimpah. Tumpukan sisa makanan dan sayuran pasar memiliki potensi kandungan protein tinggi. Pemanfaatan bahan lokal ini menjadi solusi ekonomis untuk menekan biaya produksi sekaligus mengurangi penumpukan sampah.
Proses awal dalam pembuatan pakan ikan apung adakah mengeringkan limbah sayuran untuk menghilangkan kadar air. Setelah itu, limbah organik kering dicampur dengan bahan pelengkap seperti tepung ikan, tepung jagung, tapioka, dedak, dan bahan lainnya sesuai takaran formulasi. Kemudian, adonan melalui proses cetak yang dapat digunakan menggunakan mesin pencetak atau manual dengan tangan untuk menghasilkan pelet pakan apung berkualitas.
Warga RT 18 RW XI Kelurahan Merjosari memberikan pakan ikan apung di Taman Toga wilayah setempat, Minggu, 8 November 2026. (Foto: Aliyah/Ketik.com)
Sementara itu, tanaman obat keluarga (toga) menjadi sumber bahan alami berkhasiat yang kaya akan senyawa aktif dari bagian daun, batang, buah, hingga akar. Tanaman ini mudah ditemukan di halaman rumah masyarakat. Beberapa jenis toga yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan pakan ini antara lain daun pepaya, daun singkong, daun sirih, dan sejenisnya.
Senyawa bioaktif dalam toga berperan penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan terhadap penyakit, mendukung proses pencernaan, serta mengoptimalkan kualitas nutrisi pakan.
Pakan ikan apung memiliki keunggulan berupa struktur berongga yang memungkinkannya mengapung di permukaan air. Hal ini memudahkan pembudidaya dalam mengamati keaktifan makan ikan sekaligus mengurangi risiko pakan terbuang ke dasar kolam, yang sangat penting untuk menjaga kebersihan dan kualitas air budidaya.
Dalam pembuatannya, Standar Nasional Indonesia (SNI) tetap menjadi acuan utama dengan memperhatikan parameter ketepatan proporsi protein, lemak, air, abu, serta daya apung pelet.
Dosen Fakultas Teknik Kimia Universitas Brawijaya, A.S. Dwi Saptati Nur Hidayati, S.T., M.T., menyampaikan penggunaan bahan tambahan toga dan limbah sayur bertujuan memberikan zat aditif bernutrisi pada ikan dengan pengeluaran yang lebih ekonomis.
"Yang pertama biar ada bahan aditif yang memiliki nutrisi untuk ikan. Kemudian yang kedua untuk menekan biaya karena biasanya kalau pakai pakan ikan komersil itu biayanya lebih besar dibandingkan kalau kita buat sendiri," jelasnya, Minggu, 8 November 2026.
Ia juga menjelaskan efek kepada ikan memang sama dengan pakan komersial, namun perbedaan kandungan nutrisi tentunya berbeda. Dengan hadirnya inovasi pakan ikan apung, ini akan memberikan ide riset terbaru terkait besarnya kandungan nutrisi dalam pembuatan pakan ikan tersebut.
"Nutrisinya tidak dimiliki oleh tepung-tepungan yang lain. Harapannya sih bisa lebih besar, cuma memang harus ada risetnya. Kalau secara ikannya mau makan ya sama dengan pabrikan, sama dengan (pakan) komersil, sama-sama mau makan. Cuma kalau memang untuk tahu lebih besar mana, lebih cepat mana ya memang harus ada riset lebih lanjut," pungkasnya.(*)
