KETIK, MALANG – PT Widji Nusantara Makmur (Winmar), produsen benih tanaman pangan terkemuka asal Malang, Jawa Timur, baru-baru ini menggelar studi banding ke Thailand. Langkah strategis ini diambil guna mendongkrak kualitas produksi benih jagung hibrida domestik agar mampu bersaing di pasar global.
Direktur PT Winmar, Eko Widiastopo, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan bagian dari kolaborasi dengan Limagrain, perusahaan benih raksasa asal Prancis yang tengah mengekspansi pasar tanah air melalui PT Limagrain Agricon Indonesia (LAI).
"Kami studi banding untuk belajar tentang karakteristik varietas yang akan diproduksi dan standar SOP terkait untuk processing benihnya," ujar Eko, Rabu, 15 April 2026.
Dalami SOP Produksi dan Laboratorium
PT Winmar saat mengunjungi Laboratorium Pengujian Benih, Limagrain, Thailand. (Foto: PT Winmar)
Selama di Thailand, tim Winmar membedah secara mendalam berbagai aspek teknis, mulai dari analisis keunggulan dan kelemahan varietas, hingga standar operasional prosedur (SOP) pemrosesan benih.
"Untuk processing, kita belajar SOP yang ada di Thailand," tambah Eko. Pembelajaran tersebut mencakup rantai produksi hulu ke hilir: mulai dari logistik hasil panen ke pabrik, pengolahan benih, parameter kualitas, hingga penanganan teknis di laboratorium.
Eko berharap standar tinggi yang diterapkan di Thailand dapat diadaptasi sepenuhnya di Indonesia, termasuk dalam membina ekosistem petani mitra.
"Harapannya adalah memang standar yang ada di mereka bisa kita terapkan di Indonesia. Dari mulai budaya di lapangan oleh petani mitra kami, standar budayanya bagaimana, pengolahan penanganan hama penyakitnya bagaimana, terus standar kualitas lapangnya bagaimana," jelasnya detail.
Komitmen Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
PT Winmar mengunjungi area seed production, Limagrain, Thailand. (Foto: PT Winmar)
PT Winmar sendiri memiliki rekam jejak solid dalam industri benih. Sebelumnya, perusahaan ini telah menjalin kemitraan dengan PT Bayer Indonesia selama hampir tiga tahun dan dipercaya memproduksi sekitar 75 persen kebutuhan benih mereka.
Kini, Eko menegaskan komitmennya untuk membawa standar internasional ke ranah lokal. Ia mendorong perusahaan dalam negeri untuk mulai membuka diri terhadap standar global.
"Harapan kami sih, kita yang ada di Indonesia itu perusahaan dalam negeri harus memang juga membuka mata atau membuka peluang, standar yang harus kita lakukan di Indonesia itu sama dengan yang ada di luar (internasional) juga," tegasnya.
Meski mengadopsi teknologi luar, Eko optimistis Indonesia punya modal dasar yang kuat.
"Secara kultur alam sebenarnya kita di Indonesia lebih unggul, mulai topografi dan iklimnya," imbuhnya.
Eko mengajak produsen benih nasional untuk terus memacu kapasitas produksi dan kualitas agar hasil panen petani semakin optimal.
"Jadi kita harus berlomba-lomba untuk meningkatkan secara kualitas yang harapannya bisa in line dengan produksi hasil dari petani nanti. Jadi kita memang bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, itu harapan saya," pungkas Eko. (*)
