Cuaca Bediding Picu Peningkatan Risiko ISPA, Pakar UMM Imbau Masyarakat Jaga Daya Tahan Tubuh

14 Juli 2026 13:57 14 Jul 2026 13:57

Siti Asiyah, Dendy Ganda K.

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Cuaca Bediding Picu Peningkatan Risiko ISPA, Pakar UMM Imbau Masyarakat Jaga Daya Tahan Tubuh

ISPA marak saat musim pancaroba (bediding) seperti saat ini. (Foto: Halodoc)

KETIK, MALANG – Sebagian besar wilayah Indonesia tengah memasuki musim bediding, fenomena yang ditandai dengan cuaca panas pada siang hari namun berubah menjadi sangat dingin pada malam hingga pagi hari. 

Perubahan suhu yang cukup ekstrem ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Salah satu penyakit yang kerap mengalami peningkatan pada periode ini adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa meningkatnya kasus batuk, pilek, radang tenggorokan hingga sesak napas saat cuaca dingin bukan disebabkan oleh satu faktor saja. 

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan kombinasi antara faktor lingkungan, keberadaan patogen, dan menurunnya daya tahan tubuh.

"Jumlah kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan dan turunnya suhu Udara," kata Titik, beberapa Waktu lalu.

"Kombinasi faktor patogen, lingkungan, dan kondisi tubuh menjadi penyebab terjadinya penularan. Udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia serta mempermudah penyebaran melalui partikel udara," sambungnya.

Titik menjelaskan, perubahan suhu yang terjadi secara tiba-tiba membuat saluran pernapasan menjadi lebih sensitif. Saat udara menjadi dingin, tubuh secara alami akan menyempitkan saluran napas, meningkatkan produksi lendir, serta memperlambat gerakan silia atau rambut halus di dalam hidung yang berfungsi menyaring dan membersihkan saluran pernapasan dari debu maupun mikroorganisme.

Kondisi tersebut menyebabkan kemampuan tubuh dalam menghalau virus dan bakteri menjadi berkurang sehingga risiko seseorang terserang ISPA maupun influenza meningkat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Foto pakar UMM jelaskan mudahnya persebaran ISPA saat cuaca dingin Rabu, 10 JUni 2026 (Foto: humas UMM)Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep. (Foto: Humas UMM)

Karena itu, Titik mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan jaket atau pakaian tebal sebagai perlindungan saat cuaca dingin. Menjaga daya tahan tubuh menjadi langkah yang tidak kalah penting untuk mencegah infeksi saluran pernapasan.

Ia menyarankan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan memperbanyak konsumsi minuman hangat, mengonsumsi makanan bergizi, serta memastikan asupan vitamin A dan vitamin D tercukupi. Selain itu, makanan yang mengandung asam lemak omega-3 juga dianjurkan karena dapat membantu menjaga sistem kekebalan tubuh tetap optimal.

Dengan menjaga kondisi tubuh tetap prima, risiko terserang ISPA selama musim bediding dapat ditekan, meskipun suhu udara mengalami perubahan yang cukup ekstrem antara siang dan malam hari.

Tombol Google News

Tags:

Ispa Musim Bediding batuk pilek Titik Agustiyaningsih UMM Universitas Muhammadiyah Malang