KETIK, MALANG – Kota Malang mencatat deflasi sebesar 0,20 persen month-to-month (mtm) pada Juli 2026. Penurunan indeks harga ini terutama disebabkan penurunan harga sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah, telur ayam ras, cabai rawit, cabai merah, serta emas perhiasan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Indra Kuspriyadi, menjelaskan capaian ini cukup melandai jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pada Juni 2026, Kota Malang sempat mencatatkan inflasi sebesar 0,43 persen (mtm). Sementara itu, tingkat inflasi tahunan Kota Malang tercatat sebesar 2,83 persen year-on-year (yoy).
"Secara bulanan, deflasi Kota Malang pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil deflasi sebesar -0,31 persen (mtm)," ujarnya, Rabu 5 Agustus 2026.
Indra merinci, komoditas utama penyumbang deflasi meliputi bawang merah dengan andil (-0,11 persen), telur ayam ras (-0,08 persen), emas perhiasan (-0,07 persen), cabai rawit (-0,07 persen), dan cabai merah (-0,06 persen).
"Penurunan harga komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai rawit, dan cabai rawit disebabkan oleh melimpahnya pasokan di tengah masa panen raya. Berlangsung sampai Agustus," katanya.
Selain itu, penurunan harga emas perhiasan dipicu oleh dinamika harga emas global. Penurunan harga telur ayam ras disebabkan oleh berkurangnya permintaan masyarakat yang berdampak pada penumpukan pasokan di tingkat peternak.
Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi. Komoditas tersebut antara lain bensin (0,09 persen), beras (0,05 persen), biaya Sekolah Dasar (0,02 persen), telepon seluler (0,02 persen), serta bawang putih (0,01 persen).
Efek basis dan kenaikan harga bensin di pertengahan Juni 2026 menjadi pemicu utama inflasi pada komoditas bensin di Kota Malang. Begitu pula dengan kenaikan harga gabah dan kemasan memicu kenaikan harga beras.
Kenaikan harga sekolah dasar terjadi seiring dimulainya tahun ajaran baru untuk jenjang SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
"Kenaikan harga telepon seluler didorong oleh faktor global, terutama kenaikan biaya logistik dan fenomena gangguan rantai pasok komponen input. Adapun kenaikan harga bawang putih disebabkan oleh peningkatan biaya impor sejalan dengan melemahnya nilai tukar," katanya. (*)
