Menguak Identitas Arca Mirip Kapibara di Museum Mpu Purwa, Singa atau Babi Hutan?

14 Oktober 2026 14:54 14 Okt 2026 14:54

Thumbnail Menguak Identitas Arca Mirip Kapibara di Museum Mpu Purwa, Singa atau Babi Hutan?

Arca di Museum Mpu Purwa Kota Malang ini menarik perhatian pengunjung karena mirip kapibara, hewan pengerat raksasa yang populer di media sosial. (Foto: Dendy/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Sesosok arca di sudut Museum Mpu Purwa, Kota Malang, menarik perhatian rombongan pelajar SMP yang mengunjungi museum tersebut, Rabu, 14 Oktober 2026. Mereka berebut mengambil foto arca yang mereka sebut kapibara.

Sekilas, penilaian para siswa ini tak keliru. Secara kasatmata, arca setinggi 117 sentimeter itu memang menyerupai kapibara, hewan pengerat berukuran besar yang belakangan populer di media sosial.

Apalagi, bagian perutnya yang buncit semakin memperkuat kemiripan dengan hewan yang biasa disebut Masbro tersebut.

Namun, pengelola museum mengidentifikasi arca ini sebagai Singa Vyalaka. Dalam dokumen Museum Mpu Purwa, identifikasi tersebut didasarkan pada sejumlah ciri fisik. Rambut yang terurai menjadi salah satu petunjuk yang mengarah pada penggambaran singa.

Foto Replika arca singa vyalaka yang berada di Taman Merjosari, Kota Malang.Replika arca singa vyalaka yang berada di Taman Merjosari, Kota Malang. (Foto: Nurul Aliyah/Ketik.com)

Meski demikian, bentuk wajahnya justru dinilai lebih menyerupai kuda atau anjing. Ukuran tangannya yang kecil juga tidak proporsional dengan kepala dan badannya.

Dokumen tersebut menjelaskan bahwa penggambaran singa dalam seni arca di Jawa tidak selalu menyerupai bentuk aslinya. Hal ini diduga karena singa bukan hewan yang hidup secara alami di Jawa, sehingga para pemahat pada masa lalu tidak mengenal bentuknya secara langsung.

Identifikasi tersebut sejalan dengan penilaian tim BPCB Trowulan saat arca ini ditemukan pada 2012. Kala itu, arca tersebut disebut sebagai Singa Stambha.

Namun, sejarawan Universitas Negeri Malang, Drs. Ismail Lutfi, M.A., memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, arca tersebut bukan singa, melainkan Waraha, salah satu awatara atau penjelmaan Dewa Wisnu dalam wujud babi hutan.

“Sebenarnya, ini bukan patung singa. Tapi, ini adalah Waraha. Waraha itu apa? Bahasa Indonesianya babi,” kata Lutfi, dikutip dari kanal YouTube Pemerintah Kota Malang.

Foto Taman Singha Merjosari tempat ditemukannya arca tersebut. Taman ini dinamai Taman Singha usai penemuan arca yang disebut sebagai Singa Vyalaka atau Singa Stambha. (Foto: Nurul Aliyah)Taman Singha Merjosari tempat ditemukannya arca tersebut. Taman ini dinamai Taman Singha usai penemuan arca yang disebut sebagai Singa Vyalaka atau Singa Stambha. (Foto: Nurul Aliyah/Ketik.com)

Dalam mitologi Hindu, Waraha merupakan penjelmaan Dewa Wisnu untuk menyelamatkan Dewi Bumi dari ancaman Hiranyaksa, raksasa yang menenggelamkan bumi ke dalam lautan kosmik.

Waraha kemudian bertarung melawan Hiranyaksa hingga berhasil mengalahkannya. Setelah itu, Wisnu dalam wujud babi hutan mengangkat bumi menggunakan kedua taringnya dan mengembalikannya ke tempat semestinya.

Menurut Lutfi, jika arca tersebut benar merupakan Waraha, koleksi Museum Mpu Purwa ini memiliki nilai penting dalam kajian sejarah dan keagamaan. Sebab, tidak banyak arca yang menggambarkan awatara Wisnu tersebut.

“Jarang sekali kita menemukan di tempat lain kehadiran sosok Waraha awatara ini,” tandas Lutfi.

Tombol Google News

Tags:

Museum Mpu Purwa Arca Singa Vyalaka Arca Singa Stambha Arca Waraha Awatara Taman Merjosari Kota Malang Taman Singha Kota Malang Ismail Lutfi