KETIK, MALANG – Di tengah mahalnya biaya politik, pendekatan langsung ke masyarakat dinilai menjadi strategi paling efektif untuk membangun kepercayaan publik menjelang Pemilu 2029.
Pendekatan berbasis kedekatan sosial menjadi sorotan dalam sebuah sesi diskusi yang digelar oleh mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang dalam kegiatan bertajuk PSYCHEVERITAS. Acara tersebut berlangsung di Aula I DPRD Kota Malang dan mengangkat tema tentang merajut dan membangun Bhinneka.
Dalam kegiatan tersebut, H. Rokhmad, S.Sos., anggota Komisi A DPRD Kota Malang, hadir sebagai narasumber dan membagikan pandangannya terkait strategi politik serta dinamika yang terjadi di lapangan.
Ia menilai, keterlibatan nyata di tengah masyarakat jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar kekuatan finansial saat masa pencalonan. Menurutnya, figur yang sejak awal sudah aktif di lingkungan warga cenderung lebih mudah mendapatkan kepercayaan.
Kehadiran dalam kegiatan sosial seperti kerja bakti, komunikasi sehari-hari dengan warga, hingga partisipasi dalam agenda lingkungan menjadi modal penting yang tidak bisa digantikan oleh strategi instan.
“Kalau seseorang sudah dikenal baik oleh masyarakat, maka biaya politiknya bisa jauh lebih kecil. Namun, jika belum dikenal, biasanya pengeluarannya justru lebih besar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut kerap terjadi di lapangan, terutama bagi kandidat yang belum memiliki kedekatan dengan masyarakat sehingga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperkenalkan diri.
Selain itu, Rokhmad juga menyoroti proses pengambilan keputusan dalam forum resmi yang tidak selalu berjalan cepat. Ia menyebut, dinamika dalam rapat sering kali membutuhkan komunikasi lanjutan di luar forum agar tercapai kesepahaman.
Pendekatan informal seperti diskusi santai dinilai menjadi cara efektif untuk menyatukan perbedaan pandangan antar pihak hingga akhirnya mencapai kesepakatan bersama.
“Kita tidak bisa memaksakan keputusan dalam rapat. Semua harus melalui proses, komunikasi, dan musyawarah sampai menemukan titik sepakat,” jelasnya.
Di sisi lain, perkembangan media sosial di era digital juga menjadi perhatian. Meski memiliki jangkauan luas, penggunaannya dinilai tidak cukup untuk membangun kedekatan yang kuat dengan masyarakat.
Rokhmad menekankan bahwa interaksi langsung tetap memiliki peran utama, terutama dalam membangun kepercayaan dan empati. Kehadiran di tengah masyarakat, termasuk dalam momen sosial seperti kegiatan lingkungan hingga situasi duka, dinilai sebagai bentuk nyata kepedulian.
Ia pun mengingatkan agar penggunaan media sosial tidak membuat seseorang justru jauh dari lingkungan sekitarnya. Menurutnya, masyarakat terdekat harus tetap menjadi prioritas utama.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan wawasan tentang dunia politik, tetapi juga memahami pentingnya nilai kebersamaan, komunikasi, dan peran aktif dalam kehidupan sosial sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang harmonis dalam keberagaman.
