KETIK, JEMBER – Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 menghadirkan inovasi baru dengan menghadirkan konsep Red Carpet untuk pertama kalinya sepanjang penyelenggaraan ajang karnaval busana tersebut. Konsep ini disiapkan sebagai bentuk penghormatan kepada para talent yang akan menampilkan karya terbaiknya di hadapan publik.
Presiden JFC, Budi Setiawan atau yang akrab disapa Iwan, mengatakan konsep Red Carpet menjadi salah satu pembeda pada penyelenggaraan JFC ke-24 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Iwan, karpet merah tidak sekadar menghadirkan nuansa glamor, tetapi menjadi ruang penyambutan bagi para talent dan kreator busana yang telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyiapkan kostum terbaik mereka.
"Karena talent-talent JFC, mereka sudah berkarya berbulan-bulan untuk menghasilkan sebuah karya dan pada saat mereka tampil di Jember Fashion Carnival mereka adalah sebagai bintang," tuturnya, Jumat malam, 24 Juli 2026.
Ia menjelaskan, seluruh peserta layak mendapatkan apresiasi layaknya selebritas ketika memasuki area pertunjukan. Konsep tersebut sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap proses kreatif yang melahirkan karya-karya spektakuler di panggung JFC.
Selain memberi pengalaman baru bagi peserta, konsep Red Carpet juga diharapkan meningkatkan daya tarik penyelenggaraan JFC di mata masyarakat dan wisatawan. Dengan semakin banyak pengunjung yang datang, perputaran ekonomi di sektor usaha lokal juga diperkirakan akan ikut meningkat.
Pada penyelenggaraan tahun ini, JFC diperkirakan melibatkan lebih dari 1.500 talent, termasuk tim pendukung, peserta dari berbagai daerah di Indonesia, hingga kontingen mancanegara.
"Semua talent, team support, termasuk juga kontingen-kontingen yang dari luar daerah, termasuk dari mancanegara," ujarnya.
Sejumlah tokoh nasional juga dijadwalkan meramaikan JFC 2026. Di antaranya aktris senior Christine Hakim serta 12 Puteri Indonesia yang akan hadir dalam rangkaian kegiatan karnaval.
Sementara itu, Iwan juga memaparkan konsep Grand Carnaval yang akan menjadi puncak penyelenggaraan JFC 2026. Berbeda dengan parade busana biasa, pertunjukan tersebut dikemas dalam bentuk teatrikal yang menghadirkan alur cerita.
Menurutnya, Grand Carnaval akan mengisahkan perjalanan Dewi Bumi dalam mencari nilai-nilai kebijaksanaan di tengah berbagai dinamika kehidupan yang terjadi di bumi.
"Terdiri dari beberapa devile yang merupakan sebuah perjalanan dari Dewi Bumi untuk menemukan nilai-nilai kebijakannya dari berbagai dinamika yang terjadi di Bumi," ujarnya.
Melalui kisah tersebut, JFC ingin menyampaikan pesan moral bahwa kesempurnaan bukanlah tujuan utama manusia. Sebaliknya, nilai kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama, dan kebijaksanaan menjadi pesan yang ingin ditanamkan kepada para penonton melalui pertunjukan Grand Carnaval. (*)
