KETIK, JAKARTA – Setelah hampir tiga tahun terkubur di bawah puing-puing bangunan, sebanyak 112 jenazah warga Palestina akhirnya berhasil dievakuasi dan dimakamkan massal di Kota Gaza, Selasa, 4 Agustus 2026, waktu setempat.
Prosesi pemakaman tersebut menjadi salah satu pemakaman terbesar sejak perang Israel di Gaza berlangsung.
Dari laporan Aljazeera dikutip pada Rabu, 5 Agustus 2026 dijelaskan, para korban berasal dari anggota keluarga Abu Sharia dan al-Hasayna. Jenazah para korban ditemukan dari lokasi serangan Israel di kawasan Sabra, Gaza City, yang terjadi pada 22 November 2023 lalu.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 308 anggota dari dua keluarga besar itu, termasuk 40 anak-anak, 30 perempuan, dan tujuh penyandang disabilitas.
Para korban setelah sekitar tiga tahun tertimbun puing-puing bangunan akibat serangan Israel. (Foto: Aljazeera)
Namun, sebagian besar korban baru dapat dipulangkan kepada keluarga setelah tim penyelamat berhasil mengangkat jasad mereka dari bawah reruntuhan.
Otoritas Palestina menyebut masih terdapat sekitar 157 orang lainnya yang belum ditemukan. Mereka diyakini masih tertimbun di bawah puing-puing reruntuhan.
Peti-peti jenazah yang dibalut bendera Palestina diarak melewati jalanan Kota Gaza sebelum dimakamkan.
Warga membawa foto para korban sambil menyerukan penghentian perang dan mengenang keluarga yang kehilangan anggota tercinta.
Juru bicara Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, Mahmoud Basal, menyebut pemakaman tersebut sebagai salah satu momen paling menyakitkan selama perang berlangsung.
“Gaza menyaksikan pemandangan luar biasa dan menyakitkan,” ujar Basal, menggambarkan duka keluarga yang harus menunggu bertahun-tahun hanya untuk memberikan pemakaman layak bagi kerabat mereka.
Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, Mustafa Barghouti, menyebut prosesi tersebut berpotensi menjadi salah satu pemakaman terbesar dalam sejarah Palestina.
Sementara itu, peneliti Palestina Mahmoud Hamed al-Aila mengatakan pemakaman itu menjadi simbol penderitaan panjang warga Gaza yang terus mencari anggota keluarga mereka di antara reruntuhan.
“Gaza sedang mengeluarkan jasad anak-anaknya dari bawah reruntuhan setelah bertahun-tahun mengalami kehancuran akibat perang,” katanya.
Pemakaman tersebut menggambarkan penderitaan ribuan keluarga lain di Gaza yang hingga kini masih menunggu kepastian nasib anggota keluarga mereka yang hilang di bawah reruntuhan.
Peristiwa ini terjadi di tengah situasi pascagencatan senjata yang masih diwarnai ketegangan.
Otoritas Palestina menyebut perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menyebabkan puluhan ribu warga Palestina tewas dan sebagian besar infrastruktur Gaza mengalami kerusakan parah. (*)
