KETIK, JAKARTA – Sedikitnya 12 pekerja dilaporkan tewas setelah struktur terowongan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Negara Bagian Sikkim, India timur laut, runtuh akibat ledakan gas metana yang terjadi secara mendadak.
Hingga Rabu, 22 Juli 2026, tim penyelamat masih berupaya menemukan 13 pekerja lainnya yang dilaporkan masih terjebak di dalam terowongan.
Insiden maut tersebut terjadi di proyek PLTA yang dikembangkan oleh National Hydroelectric Power Corporation (NHPC).
Terowongan tersebut dirancang untuk mengalirkan debit air dari Sungai Teesta menuju jaringan turbin pembangkit listrik.
Pasukan Tanggap Bencana Nasional India (NDRF) mengonfirmasi lokasi kejadian berada sekitar 1,5 kilometer dari mulut terowongan, sehingga menyulitkan proses evakuasi.
Berdasarkan keterangan resmi NHPC yang dikutip dari BBC, kecelakaan dipicu ledakan gas metana yang terperangkap di dalam formasi batuan pegunungan.
Ledakan itu menghasilkan asap pekat dan gas beracun yang dengan cepat memenuhi ruang terbatas di dalam terowongan.
Pemerintah Daerah Sikkim juga menegaskan bahwa penyebab utama insiden adalah pembakaran gas metana di bawah tanah.
"Jika penggalian terowongan melepaskannya ke ruang tertutup dan bersentuhan dengan percikan api atau sumber penyulutan lainnya, gas tersebut dapat terbakar atau meledak," kata seorang pejabat pemerintah.
Saat kejadian, terdapat 27 pekerja yang sedang berada di berbagai titik di dalam terowongan.
Dua orang berhasil menyelamatkan diri sesaat setelah ledakan terjadi, sementara 25 pekerja lainnya terjebak di bawah reruntuhan.
Kepala Kepolisian setempat, Sonam D Bhutia, mengatakan tim penyelamat sejauh ini telah menemukan 12 jenazah.
Dari jumlah tersebut, tujuh korban telah berhasil diidentifikasi.
Korban terdiri atas satu warga lokal Sikkim dan sejumlah pekerja migran yang berasal dari Negara Bagian Benggala Barat, Uttarakhand, dan Assam.
Sementara itu, penyebab pasti kematian para korban masih menunggu hasil visum medis.
Petugas NDRF, Mohsen Shahedi, mengatakan fokus pencarian kini dipusatkan pada area seluas 200 meter yang diyakini menjadi lokasi para pekerja yang belum ditemukan.
"Tim kami terus melakukan pencarian di area prioritas untuk menemukan para pekerja yang masih hilang," ujarnya.
Menanggapi tragedi tersebut, Ketua Menteri Sikkim, Prem Singh Tamang, telah membentuk Tim Investigasi Khusus (SIT) yang melibatkan para ahli dan geolog untuk menyelidiki penyebab pasti insiden.
Ia menegaskan pemerintah akan mengambil langkah hukum berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan.
"Kami akan mengambil tindakan berdasarkan temuan tersebut," kata Tamang.(*)
