KETIK, TUBAN – Distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Bangilan, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, mengalami keterlambatan pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Sebanyak 170 ompreng untuk siswa kelas 8 dan 9 baru tiba setelah melewati jam pulang sekolah, sehingga sejumlah siswa memilih pulang tanpa menunggu makanan.
Dari total 915 penerima manfaat (PM), yang mencakup siswa dan pendidik, keterlambatan tersebut berdampak pada penyaluran makanan untuk sebagian siswa.
Paket MBG tersebut disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngrojo Bangilan di bawah naungan Yayasan Dharmawangsa Sakti.
Seorang guru SMPN 1 Bangilan yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, distribusi MBG biasanya tiba pada pagi hari saat jam istirahat.
Namun, pada Jumat, makanan belum datang hingga menjelang siang.
“Biasanya rutin jam 9 sampai jam 10 pagi sudah datang saat istirahat. Tadi sampai jam 11 siang belum datang,” ujarnya kepada Ketik.com.
Berdasarkan dokumen jadwal pelajaran semester ganjil SMPN 1 Bangilan tahun ajaran 2026/2027, waktu distribusi MBG pada Jumat dijadwalkan pukul 08.50–09.10 WIB.
Setelah itu, siswa memiliki waktu istirahat hingga pukul 09.25 WIB.
Namun, hingga bel pulang berbunyi pukul 10.45 WIB, pasokan makanan belum tiba di gerbang sekolah.
Kondisi tersebut membuat sebagian siswa memilih langsung pulang.
“Anak-anak hari Jumat pulangnya jam 10.45 WIB. Karena MBG tidak kunjung datang, mereka memilih pulang. Padahal itu hak mereka,” tambah guru tersebut.
Keterlambatan diduga berkaitan dengan proses pengolahan menu nasi bakar yang membutuhkan waktu lebih lama.
Namun, penyebab tersebut belum disertai penjelasan teknis lebih lanjut dari pihak pengelola dapur.
Selain keterlambatan distribusi, pihak sekolah juga menyoroti perbedaan antara menu yang tercantum dalam infografis resmi SPPG Ngrojo dan makanan yang diterima.
Dalam infografis bertanggal Jumat, 16 Oktober 2026, menu yang dijadwalkan terdiri atas nasi bakar, tempe goreng, lalapan mentimun dan kol, buah belimbing, serta telur asin.
Namun, buah yang diterima siswa disebut bervariasi, meliputi buah naga, anggur, dan semangka.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu catatan pihak sekolah terhadap realisasi menu MBG hari itu.
“Kalau dari menu awal buahnya belimbing, tetapi realisasinya diganti buah naga, anggur, ada semangka,” imbuh perwakilan sekolah.
Pihak sekolah juga menyoroti penyajian telur asin yang diterima dalam kondisi masih utuh dengan cangkang berwarna biru.
Penyajian itu berbeda dengan ilustrasi pada infografis yang menampilkan telur asin dalam kondisi telah dibelah dua.
Menurut pihak sekolah, penyajian telur secara utuh dinilai kurang praktis bagi siswa yang memiliki waktu terbatas untuk makan di sela kegiatan pembelajaran.
Meski distribusi terlambat dan terdapat perbedaan menu, SMPN 1 Bangilan tetap menerima ratusan ompreng yang tersisa.
Langkah tersebut diambil untuk menghindari makanan terbuang serta meminimalkan potensi gesekan dengan pengelola dapur.
“Nanti sore akan kami bagikan kepada siswa yang mau mengambil saat kegiatan ekstrakurikuler Pramuka,” jelas pihak sekolah.
Pihak sekolah mengaku telah mengonfirmasi keterlambatan tersebut secara langsung kepada manajemen SPPG Ngrojo.
Saat dikonfirmasi, pihak dapur menyampaikan bahwa proses memasak masih berlangsung.
Terpisah, Kepala SPPG Ngrojo, Roziq, menyatakan bahwa kendala distribusi dan variasi buah telah disampaikan sebelumnya kepada penanggung jawab atau person in charge (PIC) penerima manfaat.
“Kami sudah sampaikan kepada pihak PIC penerima manfaat kalau ada keterlambatan termasuk ragam buah dari belimbing, buah naga, anggur dan semangka,” kata Roziq.(*)
