Kepergian KH Abdul Basith AS Sisakan Duka, Alumni Annuqayah Padati Doa dan Tahlil Hari ke-7

20 Agustus 2026 20:51 20 Agt 2026 20:51

Ach. Suni, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Kepergian KH Abdul Basith AS Sisakan Duka, Alumni Annuqayah Padati Doa dan Tahlil Hari ke-7

Sejumlah alumni dan keluarga besar Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, mengikuti doa dan tahlil untuk almarhum KH Abdul Basith AS pada Kamis, 20 Agustus 2026. Alumni dari berbagai daerah hadir untuk memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan almarhum. (Foto : Ach. Suni/Ketik )

KETIK, SUMENEP – Kepergian salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, KH Abdul Basith AS, ke hadirat Ilahi menyisakan duka mendalam bagi para santri dan alumni.

Hingga hari terakhir pelaksanaan doa dan tahlil pada Kamis sore, 20 Agustus 2026, sejumlah alumni dan ulama terus memadati Pondok Pesantren Annuqayah untuk mendoakan almarhum.

Para alumni datang dari berbagai daerah, baik dari wilayah Madura maupun luar pulau.

Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan terakhir sekaligus ungkapan duka atas wafatnya salah satu tokoh dan pengasuh pesantren tersebut.

Salah seorang alumni yang hadir adalah Kiai Mahmud Zain asal Jember. Ketua Forum Alumni Annuqayah Latee itu mengaku kehadiran alumni dalam acara doa, tahlil, dan takziah merupakan bentuk penghormatan kepada guru.

"Kami sebagai alumni Annuqayah memang sepatutnyalah untuk hadir. Ini tidak bisa ditawar dan bisa dikatakan wajib untuk menghadiri acara doa dan tahlil bersama sekaligus takziah," ungkap Kiai Mahmud Zain.

Foto Para alumni yang rela duduk di luar, karena Musholla sudah penuh. Mereka tetap khusuk mendoakan almarhum meski duduk di depan, samping Musholla atau jalan raya yang  ditutup sementara ( foto : Ach. Suni )Para alumni yang rela duduk di luar, karena Musholla sudah penuh. Mereka tetap khusuk mendoakan almarhum meski duduk di depan, samping Musholla atau jalan raya yang ditutup sementara (Foto: Ach. Suni)

Kepergian KH Abdul Basith AS juga bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sepanjang Agustus 2026.

Momentum tersebut turut mengingatkan kembali perjuangan sang ayah, KH Abdullah Sajjad, yang wafat dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.

Bagi keluarga besar dan alumni Annuqayah, perjuangan KH Abdullah Sajjad menjadi bagian penting dari sejarah yang patut mendapat perhatian.

Kepergian putranya, KH Abdul Basith AS, pada bulan kemerdekaan pun kembali menguatkan harapan agar perjuangan sang ayah memperoleh penghargaan sebagai pahlawan.

Duka cita juga disampaikan Anggota DPRD Jawa Timur, H Abrari, S.Ag., M.Psi.

Legislator yang sempat hadir dalam acara doa dan tahlil bersama pada hari sebelumnya itu mengenang almarhum sebagai sosok yang memiliki keteladanan, termasuk dalam dunia literasi dan karya tulis.

H Abrari, yang pernah berprofesi sebagai jurnalis di Madura, mengaku salut terhadap kegemaran KH Abdul Basith AS dalam melahirkan berbagai karya tulisan.

Menurutnya, tradisi literasi tersebut juga tampak dalam kiprah salah satu putra almarhum, M Zammiel El Muttaqien, yang dikenal sebagai sastrawan.

Namun, putranya yang akrab disapa Ra Mimink tersebut lebih dahulu meninggal dunia sebelum sang ayah.

"Semoga almarhum berdua mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin," ujar H Abrari.

Kepergian KH Abdul Basith AS meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar Pondok Pesantren Annuqayah, tetapi juga bagi para santri dan alumni yang selama ini mengenalnya sebagai sosok pengasuh dan teladan.

Doa serta tahlil yang terus digelar menjadi bentuk penghormatan sekaligus ikhtiar mengiringi kepergian almarhum.(*)

Tombol Google News

Tags:

Kh Abdul Basith Kh Abdullah Sajjad Kiai Mahmud Zain H. Abrari Ponpes Annuqayah Guluk Guluk Kabupaten Sumenep Alumni Annuqayah Doa Tahlil Ulama Madura Santri Annuqayah Berita sumenep Info Sumenep