KETIK, SLEMAN – Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya memaksimalkan perbaikan infrastruktur jalan untuk memastikan mobilitas warga berjalan lancar.
Di era Bupati Harda Kiswaya dan Wabup Danang Maharsa, program kerja yang lekat dengan sebutan "Sleman Dalane Alus" (jalannya halus/mulus), dijadikan sebagai salahsatu prioritas utama pembangunan.
Ungkapan "gali lubang tutup aspal" menggambarkan realitas kerja tak kenal lelah tim pemeliharaan di lapangan.
Selain merujuk pada prosedur teknis pemotongan dan penambalan (patching) bagian aspal yang rusak, frasa ini juga mengkiaskan perjuangan tanpa henti pasukan swakelola yang terus-menerus menambal jalan berlubang akibat tergerus lalu lintas kendaraan berat proyek strategis.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman, Sukarmin ST MT bersama Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Kabupaten Sleman, Suparman ST MT membeberkan peta jalan penanganan infrastruktur untuk Tahun Anggaran 2026.
Di balik target ambisius tersebut, Sukarmin yang akrab di sapa Ayah Karmin ini tak menampik bahwa jajarannya yang didukung 143 tenaga kerja swakelola masih harus berjibaku dengan persoalan pelik di lapangan.
Menurutnya, laju kerusakan jalan kerap diperparah oleh kendaraan angkutan material yang melampaui batas tonase normal.
Persoalan ini mencuat lantaran jalur pengangkutan material proyek strategis pembangunan jalan tol melintasi jalan kabupaten.
Namun di satu sisi spesifikasi teknis jalan sejak awal tidak dirancang untuk menahan beban berat yang konstan.
"Angkutan material yg melebihi tonase (jalur material pembangunan tol) akan mempercepat kerusakan jalan karena jalan kabupaten tidak didesign untuk lalulintas berat," ujar Ayah Karmin, Selasa 13 Oktober 2026.
Selain hantaman beban kendaraan berat, ia juga menyinggung kendala klasik terkait keterbatasan fiskal daerah. "Anggaran penanganan Jalan Kabupaten yang terbatas," imbuhnya.
Berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 87.3/Kep.KDH/A/2025 tentang Status Jalan Kabupaten, wilayah ini membawahi 371 ruas jalan dengan panjang total mencapai 733,67 kilometer.
Merujuk survei kondisi jalan yang rampung pada 2025, tingkat kemantapan jaringan jalan berada di angka 68,01 persen.
Rinciannya, sepanjang 209,04 kilometer berstatus baik dan 289,90 kilometer dalam kondisi sedang. Adapun sisa 31,99 persen masuk kategori tidak mantap, yang terbagi atas 221,76 kilometer rusak ringan serta 12,97 kilometer rusak berat.
Fokus Anggaran dan Strategi Lapangan
Kepala DPUPKP Kabupaten Sleman, Sukarmin (Ayah Karmin), menerangkan peta jalan pembangunan infrastruktur daerah. (Foto: Fajar R/Ketik.com)
Untuk mendongkrak tingkat kemantapan jalan, Bidang Bina Marga pada tahun 2026 mendapat suntikan dana segar melalui APBD sebesar Rp 108,8 miliar.
Angka ini melonjak tajam dibanding alokasi tahun sebelumnya yang hanya berkisar di angka Rp 42,6 miliar.
Dana tersebut diproyeksikan mampu menaikkan kemantapan jalan menjadi 69,10 persen atau menambah panjang jalan mantap hingga 8,03 kilometer.
Sebagai catatan, pemkab Sleman sebelumnya juga sukses mendatangkan sokongan dana pusat melalui Inpres Jalan Daerah (IJD) APBN, seperti pada ruas Jalan Wadas-Turi sepanjang 2,40 kilometer dan Jalan Kalasan-Sumber sepanjang 4,153 kilometer.
Secara rinci, alokasi anggaran tersebut disebar ke dalam sejumlah program fisik. Sektor pembangunan dan peningkatan jalan disasar menjangkau panjang 12,80 kilometer, sedangkan rehabilitasi atau pemeliharaan berkala dipatok sepanjang 14,65 kilometer.
Di sisi lain, pemeliharaan rutin jalan digeber hingga mencakup bentangan 460 kilometer, yang turut menyasar perbaikan infrastruktur jalan desa di berbagai kapanewon seperti Gamping, Godean, Moyudan, Minggir, Mlati, Depok, Sleman, Tempel, Turi, Pakem, Cangkringan, dan Seyegan.
Perhatian serupa juga diarahkan pada sektor jembatan dan drainase. Tahun ini, DPUPKP Sleman memprogramkan penggantian tiga jembatan vital, yakni Jembatan Tumut, Jembatan Nyamplung, dan Jembatan Pagerjurang, serta pembangunan 14 titik gorong-gorong baru.
Perawatan berkala juga disiagakan bagi 50 unit jembatan beserta jaringan gorong-gorong eksisting.
Seluruh giat pemeliharaan harian dijalankan dengan pola swakelola murni yang dibagi ke dalam tiga wilayah operasional: Sleman Barat, Sleman Tengah, dan Sleman Timur.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Sleman, Suparman. (Foto: Fajar R/Ketik.com)
Sembilan tim terpadu dikerahkan untuk merespons titik kerusakan secara cepat, baik secara manual untuk pencegahan dini maupun menggunakan mesin penghampar aspal mekanis (finisher) di ruas jalan yang memerlukan pelapisan ulang.
Kendati demikian, kalkulasi teknis menunjukkan bahwa kebutuhan anggaran ideal untuk mencapai kemantapan jalan 100 persen secara paripurna menyentuh angka Rp 1,11 triliun.
Dengan asumsi kemampuan fiskal daerah yang konstan seperti saat ini, dibutuhkan waktu pengerjaan bertahap selama sekitar sepuluh tahun untuk merampungkan seluruh target tersebut.
Di tengah himpitan tantangan anggaran dan hantaman kendaraan tonase tinggi, jajaran DPUPKP Sleman di bawah komando Ayah Karmin berkomitmen terus memutar otak demi menghadirkan infrastruktur yang aman, nyaman, serta mewujudkan pelayanan publik terbaik bagi mobilitas seluruh warga Sleman. (*)
