KETIK, SITUBONDO – Dalam sebuah diskusi mengenai kehidupan pesantren, pembicara membagikan pandangannya tentang esensi kehidupan seorang santri dan pentingnya peran mereka di tengah masyarakat, merupakan hal menarik untuk di bahas.
Demikian disampaikan Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo ketika mengikuti Islamic Night Talk Intalk yang berlangsung di Pendopo Rakyat Situbondo, Rabu 21 Oktober 2026.
Menurutnya, seorang santri memiliki keistimewaan tersendiri, terutama dalam hal pegangan hidup dan sanad keilmuan dari seorang guru. Ia juga mengungkapkan pengalaman pribadinya saat mencari pondok pesantren yang tepat.
Meski di berbagai kota seperti Jakarta, Bekasi, hingga Malang berdiri banyak pesantren modern dengan fasilitas megah, kata Mas Rio, panggilan akrabnya, keberadaan seorang sosok kiai tetap menjadi pertimbangan utama. Hal tersebut dipengaruhi oleh nasihat seorang santri senior yang menekankan pentingnya kiai sebagai figur pembimbing.
“Pilihan untuk menjadikan anak saya sebagai santri tersebut, jatuh pada Pondok Pesantren Progresif Bumi Sholawat di bawah asuhan KH. Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), Tulangan Sidoarjo. Sehingga anak saya mengenyam pendidikan di pesantren. Anak saya bercerita bangga menjadi santri. Kebanggaan sang anak ketika mendapat kesempatan membantu tugas-tugas di pesantren, seperti menggantikan temannya untuk piket kebersihan,” kata Mas Rio, mengkisahkan anaknya menjadi santri.
Hal sederhana tersebut, kata Mas Rio, dinilai sebagai pengalaman berharga yang membentuk karakter dan pengabdian seorang santri untuk pesantrennya. “Puncak dari nilai spiritualitas yakni, memanusiakan manusia. Seluruh pemikiran dan filsafat sejatinya berakar dari nilai-nilai kemanusiaan,” jelas Mas Rio.
Dalam konteks tersebut, santri dinilai memiliki perangkat dan instrumen penting untuk membawa perubahan positif. "Di mana pun santri berada, baik di bidang pertanian, ASN, kepolisian, TNI, maupun wirausaha, kehadiran mereka harus mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” tutur Mas Rio.
Sebab, imbuh Mas Rio, tidak ada batas kebaikan dan ilmu dalam melakukan perubahan. Oleh karena itu, dimanapun santri berada melakukan perubahan kebaikan. “Santri akan terus melakukan perubahan kebikan,” pungkasnya. (*)
