Kiai Hamid Wahid: Inovasi dan Kemandirian Ekonomi, Dua Kunci Perjuangan di Tengah Tantangan Zaman

25 Oktober 2026 15:45 25 Okt 2026 15:45

Ponirin, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Kiai Hamid Wahid: Inovasi dan Kemandirian Ekonomi, Dua Kunci Perjuangan di Tengah Tantangan Zaman

Kepala Pesantren Nurul Jadid Dr. KH. Abdul Hamid Wahid memberikan sambutan Wisuda dan Dies Maulidiyah ke-9 Universitas Nurul Jadid (UNUJA) (Foto : Ponirin Mika/Ketik.co.id)

KETIK, PROBOLINGGO – Kepala Pesantren Nurul Jadid, Dr. KH. Abdul Hamid Wahid, mengingatkan bahwa pertumbuhan sebuah lembaga tidak boleh membuat warganya lupa pada perjuangan yang melahirkannya. Pesan itu disampaikan dalam sambutannya pada Wisuda dan Dies Maulidiyah ke-9 Universitas Nurul Jadid (UNUJA), Ahad, 25 Oktober 2026, di halaman kampus.

Atas nama pimpinan pesantren, ia mengucapkan selamat kepada UNUJA yang memasuki usia ke-9. Ia juga mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati jenjang diploma, sarjana, dan magister. Ia berharap Allah memberkahi ilmu yang telah mereka peroleh dan membimbing langkah mereka berikutnya.

Hadir dalam acara tersebut para masyayikh dan keluarga besar pesantren, pimpinan dan senat universitas, perwakilan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, sekretaris pesantren, para kepala biro dan kepala satuan pendidikan, dosen, tenaga kependidikan, mitra kampus, serta orang tua dan wali wisudawan.

Kiai Hamid menegaskan bahwa UNUJA bukan sekadar perguruan tinggi yang kebetulan berada di lingkungan pesantren. Menurutnya, universitas ini tumbuh dari tradisi perjuangan dan cita-cita seorang ulama yang mengabdikan diri pada pendidikan demi membangun kehidupan umat dan bangsa.

Karena itu, peringatan dies maulidiyah tidak boleh dimaknai sebatas bertambahnya usia lembaga.

“Kita sedang mengingat kembali sebuah amanah: nilai apa yang harus dijaga dan ke mana perjuangan ini menuju,” ujarnya.

Kiai Hamid mengenang pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai ulama yang meletakkan dasar pendidikan sekaligus perjuangan sosial. Sang pendiri tidak menghendaki manusia berhenti pada kepentingan dirinya sendiri. Beliau menginginkan setiap orang memiliki kesadaran untuk memikirkan kehidupan masyarakat dan nasib rakyat.

Amanah itu, kata Kiai Hamid, tidaklah ringan. Mengembannya berarti keluar dari kehidupan yang hanya berpusat pada diri sendiri, dan tidak memisahkan pendidikan, ekonomi, maupun kehidupan pribadi dari tanggung jawab sosial. Bentuknya boleh berbeda-beda, tetapi semuanya bermuara pada kesediaan menempatkan kepentingan yang lebih luas di atas kepentingan pribadi yang sempit.

“Itulah amanat perjuangan pendiri yang tidak boleh berhenti sebagai kenangan sejarah. Ia harus terus hidup dalam pilihan dan tindakan generasi penerusnya,” tegasnya.

Kiai Hamid kemudian menjelaskan hubungan pesantren dan universitas. Pesantren memiliki sejarah panjang dalam mendidik manusia, menanamkan nilai, membentuk watak, dan menghidupkan tradisi keilmuan. Universitas hadir dengan tanggung jawab mengembangkan ilmu pengetahuan, keahlian profesional, penelitian, dan pemikiran yang mampu menjawab persoalan zaman. Keduanya memiliki ruang kerja yang tidak selalu sama, tetapi tidak boleh kehilangan arah perjuangan yang sama.

Bupati Bondowoso ini menyebut tradisi pesantren menyimpan nilai-nilai penting bagi dunia pendidikan, yakni penghormatan terhadap ilmu dan guru, kedisiplinan, kesederhanaan, keikhlasan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu, menurutnya, bukan penghalang kemajuan akademik, melainkan justru memberi arah agar kemajuan tidak kehilangan tujuan kemanusiaan.

Pesantren mewariskan nilai perjuangan, sedangkan universitas mengembangkan kemampuan untuk meneruskannya. “Nilai tanpa penguasaan ilmu dapat kehilangan daya jangkau. Sebaliknya, ilmu tanpa orientasi nilai dapat kehilangan arah. Keduanya harus saling menguatkan,” katanya.

Selain itu, beliau menegaskan bahwa kesinambungan pesantren dan universitas tidak cukup diwujudkan lewat kedekatan tempat, hubungan kelembagaan, atau kesamaan nama. Kesinambungan itu harus tampak pada orientasi pendidikan, watak lulusan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dalam bagian inti sambutannya, Kiai Hamid menyebut dua hal yang perlu diperhatikan dalam meneruskan amanah para pendiri: keberanian berinovasi dan kesungguhan membangun kemandirian, terutama kemandirian ekonomi.

Inovasi. Menurutnya, inovasi adalah keharusan bagi perjuangan yang ingin terus hidup. Tantangan setiap zaman tidak sama, dan apa yang efektif pada masa lalu belum tentu cukup menjawab persoalan hari ini. Ia mendorong keberanian mengembangkan gagasan baru, memperbaiki cara kerja, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta membangun model pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

UNUJA, kata beliau, harus menjadi ruang tumbuhnya pemikiran dan terobosan. Dosen dan peneliti diharapkan tidak berhenti pada pengembangan pengetahuan di ruang akademik, tetapi juga menemukan jawaban atas persoalan nyata. Mahasiswa perlu didorong menjadi insan kreatif yang mampu membaca perubahan dan berani menawarkan solusi. Pesantren pun harus terus membuka ruang pembaruan yang membawa kemaslahatan, tanpa kehilangan prinsip dan jati dirinya.

Kemandirian ekonomi. Perjuangan pendidikan dan pengabdian sosial, lanjutnya, membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat. Niat baik saja tidak selalu cukup untuk membangun lembaga pendidikan bermutu, memperluas akses belajar, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan menjalankan program pemberdayaan secara berkelanjutan.

Karena itu, Kiai Hamid menegaskan bahwa kemandirian ekonomi bukan semata soal mengumpulkan kekayaan. “Kemandirian ekonomi adalah kemampuan menjaga keberlangsungan perjuangan, memperluas manfaat, dan mengurangi ketergantungan yang dapat membatasi gerak langkah kita,” ujarnya.

Pesantren dan universitas, menurutnya, perlu terus mendorong budaya kewirausahaan, mengembangkan unit usaha yang sehat, membangun kemitraan produktif, dan memperkuat ekonomi masyarakat. Ilmu dan keahlian di perguruan tinggi harus dihubungkan dengan kebutuhan dunia usaha, potensi daerah, dan persoalan ekonomi masyarakat.

Tak lupa juga, beliau berharap lembaga pendidikan tidak hanya melahirkan lulusan pencari kerja, tetapi juga generasi yang mampu menciptakan lapangan kerja. Ilmu pun tidak boleh berhenti sebagai modal meningkatkan penghasilan pribadi, melainkan menjadi kekuatan untuk mengembangkan usaha, memberdayakan masyarakat, dan membuka jalan kesejahteraan bersama.

Menutup sambutannya, Kiai Hamid mengajak seluruh hadirin memperbarui komitmen menjaga amanah perjuangan Pondok Pesantren Nurul Jadid dan meneruskannya melalui UNUJA. Tantangan yang dihadapi mungkin berbeda dari para pendahulu, tetapi selama terus bekerja menjawab kebutuhan masyarakat, perjuangan itu akan tetap memiliki arah dan benang merah yang jelas.

Kepada para wisudawan dan wisudawati, beliau berpesan agar menjadi generasi penerus yang mampu memadukan kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, dan keteguhan pengabdian. “Semoga ilmu yang diperoleh menjadi cahaya dalam kehidupan, jalan bagi kemaslahatan masyarakat, dan amal jariyah yang terus mengalir,” tuturnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Kiai Hamid Wahid unuja Universitas Nurul Jadid