KETIK, NGANJUK – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 PSDKU Universitas Brawijaya Kediri menghadirkan inovasi teknologi tepat guna (TTG) melalui program HydroPlast (Hydroponic from Plastic Waste), yakni budidaya kangkung hidroponik dengan memanfaatkan sampah plastik rumah tangga sebagai media tanam. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu, 12 Juli 2026, di Dusun Cengkok, Desa Cengkok, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.
Program ini diikuti masyarakat dari lima dusun di Desa Cengkok sebagai upaya meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah plastik sekaligus mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk menghasilkan sayuran sehat secara mandiri.
HydroPlast lahir dari kepedulian mahasiswa terhadap masih banyaknya limbah plastik rumah tangga, seperti galon dan gelas plastik bekas, yang belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat akan sayuran segar terus meningkat, sementara tidak semua warga memiliki lahan yang luas untuk bercocok tanam.
Penanggung jawab program kerja ini adalah Lutfiyana Manba'ul Hikmah, Nayla Indriani Firdaus, dan Muhammad Yasyfi Fuadana, yang merupakan mahasiswa Program Studi Agribisnis PSDKU Universitas Brawijaya Kediri. Ketiganya berkolaborasi merancang dan mengimplementasikan HydroPlast sebagai solusi sederhana, murah, dan mudah diterapkan masyarakat dalam mengelola sampah plastik sekaligus membudidayakan sayuran secara mandiri.
Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN memperkenalkan sistem hidroponik sederhana yang memanfaatkan barang bekas sebagai instalasi tanam. Dengan metode tersebut, masyarakat dapat membudidayakan kangkung di pekarangan rumah secara praktis, hemat biaya, dan ramah lingkungan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyuluhan mengenai konsep hidroponik, prinsip ekonomi sirkular, serta pentingnya pengelolaan sampah berdasarkan konsep reduce, reuse, dan recycle (3R). Selanjutnya, peserta mendapatkan demonstrasi pembuatan instalasi HydroPlast menggunakan galon dan gelas plastik bekas yang dipadukan dengan kain flanel sebagai sumbu penyalur nutrisi.
Mahasiswa juga memberikan pelatihan mengenai proses penyemaian benih kangkung menggunakan media rockwool, pencampuran nutrisi AB Mix, hingga teknik pemindahan bibit dan perawatan tanaman sampai siap dipanen. Setelah sesi penyampaian materi, warga diajak mempraktikkan secara langsung pembuatan instalasi hidroponik serta penanaman kangkung dengan pendampingan mahasiswa KKN.
Potret pelaksanaan program HydroPlast bersama masyarakat Desa Cengkok. Program yang diinisiasi Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 PSDKU Universitas Brawijaya Kediri ini mengajak warga memanfaatkan sampah plastik rumah tangga sebagai media budidaya kangkung hidroponik. (Foto: Mahasiswa KKN Kelompok 13 PSDKU Universitas Brawijaya Kediri)
Berbeda dengan sistem hidroponik konvensional yang umumnya menggunakan pipa dan pompa listrik, HydroPlast dirancang lebih sederhana dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan, seperti galon bekas, gelas plastik, kain flanel, rockwool, dan nutrisi AB Mix. Sistem sumbu yang digunakan memungkinkan larutan nutrisi terserap menuju akar tanaman melalui daya kapilaritas kain flanel tanpa memerlukan aliran listrik maupun pompa air.
Dalam penerapannya, benih kangkung disemai pada media rockwool hingga berkecambah. Setelah bibit memiliki daun awal, tanaman dipindahkan ke gelas plastik yang telah dipasangi kain flanel, kemudian diletakkan pada galon yang berisi larutan nutrisi AB Mix. Dengan sistem tersebut, kangkung dapat tumbuh optimal dan dipanen dalam waktu sekitar 21 hingga 25 hari.
Program HydroPlast tidak hanya memberikan solusi dalam pengelolaan sampah plastik, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi dan mendukung ketahanan pangan masyarakat. Melalui pemanfaatan limbah sebagai media tanam, jumlah sampah plastik rumah tangga berpotensi berkurang, sementara warga memperoleh keterampilan baru dalam membudidayakan sayuran secara hidroponik.
Hasil panen kangkung diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk membeli sayuran, bahkan membuka peluang usaha berbasis hidroponik apabila dikembangkan secara berkelanjutan. Inovasi ini juga menjadi bentuk penerapan ekonomi sirkular yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Melalui program HydroPlast, KKN Kelompok 13 PSDKU Universitas Brawijaya Kediri berharap masyarakat Desa Cengkok dapat terus mengembangkan budidaya hidroponik berbasis pemanfaatan sampah plastik secara mandiri. Dengan demikian, inovasi sederhana tersebut diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan keluarga, mengurangi pencemaran lingkungan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah menjadi sesuatu yang bernilai guna.
.png)