Doa di Awal Perjalanan, Yusuf Ali Tantowi: Harapan Besar untuk Generasi Baru Universitas Bandung

26 September 2026 11:10 26 Sep 2026 11:10

Iwa AS, Akhmad Sugriwa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Doa di Awal Perjalanan, Yusuf Ali Tantowi: Harapan Besar untuk Generasi Baru Universitas Bandung

Katib Syuriyah PCNU Kab Bandung Yusuf Ali Tantowi menghadiri PKKMB) Universitas Bandung, di Yayasan Habibi Bina Cendikia di Kp. Babakan Mundel , Desa/Kec Solokan Jeruk, Kab Bandung, Sabtu (26/9/26).(Foto:Iwa/Ketik.com)

KETIK, BANDUNG – Di tengah gegap gempita menyambut mahasiswa baru, ada satu harapan yang jauh lebih panjang daripada sekadar keberhasilan meraih gelar: agar ilmu yang mereka dapat kelak menjadi cahaya bagi kehidupan dan manfaat bagi sesama.

Harapan itu mengemuka dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Bandung, dalam agenda penyerahan Surat Keputusan (SK) Alih Kelola sekaligus Pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Bandung Tahun Akademik 2026/2027 yang digelar Yayasan Habibi Bina Cendikia di Kp. Babakan Mundel Rt 02/03 Desa/Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung.

Dalam suasana khidmat, Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Bandung  Dr. KH. Yusuf Ali Tantowi, Lc., M.A. memimpin pembacaan doa, menitipkan masa depan para mahasiswa kepada Allah SWT sekaligus mendoakan perjalanan baru Universitas Bandung bersama Yayasan Habibi Bina Cendikia.

Doa itu seakan mengingatkan bahwa setiap mahasiswa yang hari ini memasuki gerbang kampus sedang memulai perjalanan panjang. Mereka datang membawa cita-cita pribadi, harapan orang tua, dan masa depan yang belum tertulis.

Karena itu, doa yang dipanjatkan bukan sekadar permohonan agar mereka berhasil secara akademik.

«“زَيِّنْهُمْ بِالْعِلْمِ، وَجَمِّلْهُمْ بِالْأَدَبِ، وَحَصِّنْهُمْ بِالتَّقْوَى، وَارْفَعْهُمْ بِالْأَخْلَاقِ.”»

“Ya Allah, hiasilah mereka dengan ilmu, indahkan mereka dengan adab, kokohkan mereka dengan takwa, dan angkatlah mereka dengan akhlak.”

Empat kata kunci itu—ilmu, adab, takwa, dan akhlak—menjadi pesan penting bagi generasi yang tengah memasuki dunia perguruan tinggi.

Sebab, kata Yusuf Ali Tantowi, keberhasilan seorang mahasiswa pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa tinggi gelar yang diraih, tetapi juga dari seberapa besar ilmu yang dimilikinya mampu menghadirkan kebaikan.

Mendoakan Amanah Baru

Doa juga diarahkan secara khusus kepada Yayasan Habibi Bina Cendikia yang mengemban amanah dalam pengelolaan Universitas Bandung.

«“وَاجْعَلْ هٰذِهِ الْأَمَانَةَ فَتْحًا لِلْخَيْرِ، وَرِفْعَةً لِلْعِلْمِ، وَنَفْعًا لِلطُّلَّابِ وَالْمُجْتَمَعِ.”»

“Jadikanlah amanah ini sebagai jalan terbukanya kebaikan, terangkatnya martabat ilmu, serta hadirnya manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat.”

Amanah pendidikan, dalam doa tersebut, dipandang lebih dari sekadar tanggung jawab mengelola institusi. Di dalamnya terdapat masa depan mahasiswa, harapan orang tua, dan cita-cita masyarakat terhadap lahirnya generasi yang berilmu sekaligus berkarakter.

"Karena itu, para pengelola didoakan memperoleh keikhlasan dalam mengabdi, kejernihan dalam mengambil keputusan, kebijaksanaan dalam memimpin, serta keteguhan dalam menjaga amanah," ujar Yusuf.

Kampus yang Melahirkan Manfaat

Harapan yang sama juga diarahkan kepada Universitas Bandung agar terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga manusia yang memberi manfaat.

«“اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَامِعَتَنَا مَنَارَةً لِلْعِلْمِ، وَمَشْعَلًا لِلْأَخْلَاقِ، وَمَصْدَرًا لِلنَّفْعِ وَالْخَيْرِ.”»

“Ya Allah, jadikan universitas kami sebagai mercusuar ilmu, pelita akhlak, dan sumber manfaat serta kebaikan.”

Doa itu menjadi harapan agar kampus tidak berhenti sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi menjadi ruang tumbuhnya karakter, kreativitas, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.

"Setiap mahasiswa yang berhasil diharapkan bukan hanya menjadi kebanggaan keluarganya, tetapi juga mampu membawa perubahan positif di tengah masyarakat," kata dia.

Ketika Nama Tak Lagi Disebut

Ada satu bagian doa yang memberikan pesan humanis paling dalam: harapan agar kebaikan para pengelola pendidikan tetap hidup bahkan ketika nama mereka suatu hari tidak lagi disebut.

“Jika kelak nama mereka tidak lagi disebut, biarkan ilmu dan kebaikan yang mereka tanam tetap hidup.”

Kalimat itu menggambarkan hakikat pengabdian di dunia pendidikan. Bahwa karya terbaik tidak selalu harus dikenang melalui nama. Ia dapat terus hidup melalui manusia-manusia yang pernah disentuh oleh ilmu dan kebaikan.

Seorang mahasiswa yang berhasil, seorang keluarga yang terbantu, seorang anak bangsa yang kemudian mengabdi kepada masyarakat—semuanya dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang panjang.

Harapan itu kemudian dirangkum dalam sebuah doa:

«“وَاجْعَلْ مَا يَأْتِي أَجْمَلَ مِمَّا مَضَى، وَأَوْسَعَ خَيْرًا، وَأَعْظَمَ أَثَرًا، وَأَدْوَمَ بَرَكَةً.”»

“Jadikanlah apa yang akan datang lebih indah daripada yang telah berlalu, lebih luas kebaikannya, lebih besar manfaatnya, dan lebih kekal keberkahannya.”

Doa tersebut menjadi penutup yang sarat optimisme. Bagi mahasiswa baru, perjalanan baru saja dimulai. Bagi Universitas Bandung dan Yayasan Habibi Bina Cendikia, amanah besar juga sedang berjalan.

"Namun keduanya bertemu pada satu harapan yang sama: semoga pendidikan hari ini menjadi cahaya bagi masa depan, dan setiap ilmu yang ditanam menjadi kebaikan yang terus tumbuh melampaui generasi," pungkas Yusuf.(*)

Tombol Google News

Tags:

Universitas Bandung Yusuf Ali Tantowi Ketua Baznas Kabupaten Bandung Baznas baznas kabupaten bandung