KETIK, JAKARTA – Guruh Soekarnoputra dikabarkan telah meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026 pukul 04.16 WIB di Jakarta dalam usianya yang ke 73 tahun. Ia merupakan anak kelima sepasang suami istri Soekarno dan Fatmawati, sekaligus adik bungsu Megawati Soekarnoputri. Semasa hidupnya, Guruh memiliki perjalanan panjang dalam seni dan budaya Indonesia, bahkan karya-karyanya masih banyak diminati sampai sekarang.
Uniknya, Guruh sudah menggeluti dunia seni sejak mendiang berusia 5 tahun. Sejak kecil, Guruh belajar tari Jawa, Sunda hingga tarian Bali. Kepiawaiannya tampil di depan panggung dan bermain piano membuat mendiang bisa membentuk kelompok musik band The Beat G anak-anak pada 1965 di saat umurnya masih 12 tahun. Tak sampai itu, Guruh kembali membentuk grup musik pada 1970 dengan nama Flower Poetman.
Hingga pada tahun 1975, mendiang menggarap album "Guruh Gipsy" dan tercatat dirilis pada 1977. Tidak sendiri, karya tersebut hadir dari hasil kolaborasi musisi yang namanya juga melambung di tahun itu. Chrisye, Keenan Nasution hingga Roni Harahap menjadi bagian dari proyek itu.
Tak hanya menjadi musisi, Guruh juga menjadi pencipta dan sudah banyak menulis lagu yang kini masih didengarkan banyak orang. Di antaranya, Galih dan Ratna, Kala Cinta Menggoda dan Gita Cinta. Konsistensinya dalam menciptakan lagu membawanya hadir dalam panggung AMI Awards 1998 sebagai Pencipta Lagu Pop Terbaik.
Eksis dalam dunia musik tak membuatnya jauh dari kesenian tari tradisional, pada 27 Maret 1977, mendiang mendirikan Swara Maharddhika yang menjadi wadah kreativitas seni dan pertunjukan. Kemudian, pada 1989 kembali mendirikan Gencar Semarak Perkasa (GSP). Punya panggung pertunjukan berskala besar, Guruh pernah menggelar pagelaran karya hingga drama kolosal yang menggabungkan musik, tarian, busana dan unsur budaya Indonesia.
Walaupun pernah menduduki bangku politik sebagai anggota DPR RI, Guruh juga mempunyai sisi lain saat menggelar Galeri Seni karena kepeduliannya terhadap pekerja seni yang sakit. Dirinya mengadakan pameran fotografi yang menghadirkan 550 karya foto koleksinya sejak 1956 dengan dana himpun yang akan diberikan untuk membantu pekerja seni yang sakit.
Meski telah berpulang, karya Guruh Soekarnoputra tetap menjadi bagian dari dunia seni Indonesia. Mari bersama mendoakan agar mendiang dapat diterima di sisi-Nya. (*)
