KETIK, SURABAYA – Film drama komedi Agensi Rumah Tangga terus mencatat pertambahan jumlah penonton sejak tayang di bioskop Indonesia pada Kamis, 10 September 2026.
Memasuki hari ke-12 penayangan, film produksi StarVision Plus tersebut telah ditonton lebih dari 900 ribu orang.
Dikutip dari unggahan Instagram resmi film Agensi Rumah Tangga pada Selasa, 22 September 2026, jumlah penonton film tersebut telah mencapai 900.078 orang.
Pihak film juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah menyaksikan film tersebut di bioskop.
Film Agensi Rumah Tangga disutradarai Naya Anindita dengan skenario yang ditulis Upi Avianto.
Ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Almira Bastari yang terbit pada 2024.
Film tersebut menghadirkan Enzy Storia, Afgansyah Reza, Unique Priscilla, Fita Anggriani, Ardit Erwandha, Yunita Siregar, serta sejumlah komika dalam jajaran pemain.
Cerita berpusat pada Katia yang diperankan Enzy Storia. Ia kehilangan pekerjaan setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), sementara kewajiban membayar cicilan rumah tetap harus dipenuhi.
Dalam kondisi tersebut, Katia memilih mencari jalan lain dengan membuka agensi yang menyalurkan asisten rumah tangga (ART).
Namun, keputusan tersebut justru membawanya menghadapi berbagai persoalan baru.
Katia harus berhadapan dengan karakter para ART yang berbeda-beda, tuntutan klien, hingga tekanan dari sang ibu.
Salah satu klien yang cukup menyita perhatian adalah Kafka, seorang penyanyi terkenal yang diperankan Afgansyah Reza.
Seiring perkembangan cerita, persoalan pekerjaan kemudian berkembang menjadi kisah tentang hubungan antarmanusia.
Katia perlahan melihat para ART yang bekerja melalui agensinya bukan sekadar orang yang harus disalurkan kepada klien, tetapi juga individu dengan cerita dan persoalan masing-masing.
Unsur komedi menjadi salah satu bagian penting dalam film tersebut.
Persoalan kehilangan pekerjaan dan tekanan ekonomi dikemas melalui situasi sehari-hari sehingga cerita tidak sepenuhnya tampil sebagai drama berat.
Film ini juga mengangkat isu perempuan dan pekerjaan.
Setiap karakter memiliki latar belakang serta alasan masing-masing dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Hal tersebut membuat cerita tidak hanya berfokus pada Katia, tetapi juga memperlihatkan pengalaman perempuan dengan kondisi yang berbeda.(*)
