Wamenlu Anis Matta: Timur Tengah Jadi Pusat Perebutan Geopolitik Dunia karena Cadangan Minyak

10 Juli 2026 21:20 10 Jul 2026 21:20

Niesky Hafur, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Wamenlu Anis Matta: Timur Tengah Jadi Pusat Perebutan Geopolitik Dunia karena Cadangan Minyak

Sajid Friday Morning Talk yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) di AQL Islamic Center, Jakarta Selatan , Jumat 10 Juli 2026 ( Foto : Humas Sajid )

KETIK, JAKARTA – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta menilai kawasan Timur Tengah memiliki posisi yang sangat strategis dalam percaturan politik internasional. Selain berada di lokasi yang menghubungkan berbagai kawasan dunia, wilayah tersebut juga menyimpan cadangan energi dalam jumlah besar yang menjadi perhatian banyak negara.

Pandangan itu disampaikan Anis saat menjadi pembicara dalam Sajid Friday Morning Talk yang digelar Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) di AQL Islamic Center, Jakarta Selatan, Jumat, 10 Juli 2026.

"Timur Tengah menjadi kawasan yang sangat strategis karena menyimpan hampir separuh cadangan minyak dunia. Ini menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kepentingan geopolitik global," ujar Anis Matta.

Politikus Partai Gelora itu menjelaskan bahwa dinamika perebutan pengaruh di tingkat global selama puluhan tahun tidak dapat dipisahkan dari faktor geografis dan penguasaan sumber daya alam, terutama minyak bumi. Karena itu, pemahaman mengenai peta geopolitik dunia menjadi bekal penting untuk membaca arah hubungan internasional.

Dalam diskusi yang dipandu Ketua Umum Sajid Bachtiar Nasir dan dihadiri jurnalis Muslim serta kalangan akademisi, Anis memaparkan bahwa dunia secara geopolitik terbagi ke dalam dua kawasan besar, yakni Benua Amerika serta kawasan Asia, Afrika, dan Eropa.

Menurutnya, pembagian geografis tersebut memengaruhi persebaran penduduk, kekuatan ekonomi, hingga persaingan pengaruh antarnegara. Ia menyebut sekitar 1,1 miliar penduduk tinggal di Benua Amerika, sedangkan sekitar 7,1 miliar lainnya menghuni kawasan Asia, Afrika, dan Eropa. Meski demikian, kedua wilayah tersebut sama-sama menjadi penyumbang utama produk domestik bruto (PDB) dunia.

Anis juga menyoroti potensi ekonomi negara-negara Islam yang tergabung dalam kelompok D-8. Menurutnya, total PDB gabungan negara anggota mencapai sekitar 5,1 triliun dolar Amerika Serikat dan menjadi modal besar untuk memperkuat kerja sama ekonomi dunia Islam.

Selain aspek ekonomi, Anis menegaskan bahwa minyak bumi masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi hubungan internasional. Ia menyebut sekitar 48 persen cadangan minyak dunia berada di kawasan Timur Tengah, sedangkan hampir sepertiganya tersebar di Benua Amerika.

Dalam kesempatan tersebut, Anis turut mengulas rivalitas Blok Barat dan Blok Timur pada era Perang Dingin. Ia menjelaskan, kepemilikan senjata nuklir oleh kedua kubu membuat perang terbuka sulit terjadi, sehingga persaingan bergeser menjadi perang proksi di berbagai negara.

Menurutnya, berbagai pergantian pemerintahan, perang saudara, hingga konflik politik yang terjadi di Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah pada masa itu merupakan bagian dari persaingan dua kekuatan besar dunia.

Anis juga menilai negara-negara Teluk mampu mempertahankan stabilitas politik karena didukung kekayaan minyak dan gas serta kebijakan redistribusi kesejahteraan kepada masyarakat.

"Kondisi tersebut membuat kawasan Teluk berkembang lebih stabil dibandingkan sejumlah negara Arab non-Teluk yang berkali-kali dilanda konflik politik dan perang," pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Anis Matta Bacthiar Nasir Timur Tengah Geopolitik Dunia Cadangan Minyak Dunia Wamenlu Ri Perang Dingin D-8