KETIK, MALANG – Sejumlah siswa dan wali murid menggelar aksi protes di SMPN 18 Malang, Jumat, 25 September 2026. Aksi tersebut dilakukan menyusul dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan kepala sekolah terhadap sejumlah siswa sehari sebelumnya.
Dugaan kekerasan itu mencuat setelah sebuah rekaman video beredar di WhatsApp Group dan media sosial. Dalam video tersebut, kepala sekolah diduga memukul beberapa siswa karena tidak mengenakan pakaian lurik.
Padahal sebelumnya, aturan pakaian setiap Kamis di SMPN 18 Malang memperbolehkan siswa mengenakan pakaian adat atau batik dari luar sekolah.
Namun, kebijakan tersebut baru-baru ini diubah. Siswa diwajibkan mengenakan lurik. Perubahan aturan itu disebut membuat sejumlah siswa belum dapat langsung memenuhi ketentuan karena belum memiliki pakaian tersebut.
Selain dugaan pemukulan, sejumlah siswa disebut mengalami luka akibat kejadian tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan, ada korban yang mengalami lebam dan luka berdarah hingga masalah pada bagian telinga.
"Dari beberapa murid juga ada yang lebam, berdarah, dan telinganya menjadi bernanah, dan juga ada korbannya dia yang anak inklusi," jelas sumber video dalam keterangan yang diterima Ketik.com.
Atas kejadian tersebut, sejumlah siswa bersama wali murid mendatangi SMPN 18 Malang pada Jumat pagi. Mereka meminta pihak sekolah memberikan penjelasan terkait dugaan kekerasan tersebut sekaligus memastikan adanya tindak lanjut terhadap peristiwa yang dialami para siswa.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak SMPN 18 Malang mengenai dugaan tindak kekerasan tersebut. (*)
