KETIK, BATU – Tingkat hunian hotel di Kota Batu meningkat pada Juni 2026, tetapi rata-rata lama wisatawan menginap justru menurun.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) mencapai 29,40 persen, naik 1,43 poin dari Mei, sedangkan Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) turun menjadi 1,04 malam.
Data tersebut tercantum dalam Berita Resmi Statistik BPS Kota Batu Nomor 10/08/3579/Th. XII yang dirilis pada 10 Agustus 2026. Kenaikan TPK terjadi pada hotel berbintang maupun kelompok hotel nonbintang dan akomodasi lainnya.
Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, peningkatan okupansi terlihat pada seluruh kelompok akomodasi. Hotel berbintang mencatat TPK sebesar 38,13 persen pada Juni 2026, meningkat 1,98 poin dibandingkan Mei yang berada di angka 36,15 persen.
“Peningkatan okupansi terjadi pada hotel berbintang maupun akomodasi nonbintang,” ungkapnya, Jumat, 21 Agustus 2026.
Jika dibandingkan dengan Juni 2025, TPK hotel berbintang juga mengalami kenaikan 4,13 poin. Dengan capaian tersebut, rata-rata sekitar 38 hingga 39 dari setiap 100 kamar hotel berbintang yang tersedia di Kota Batu terisi setiap malam.
Sementara itu, tingkat hunian pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya mencapai 22,94 persen. Angka tersebut meningkat 1,01 poin dibandingkan Mei 2026 yang tercatat sebesar 21,93 persen.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batu Aries Setiawan mengatakan, pertumbuhan juga terlihat pada perbandingan tahunan untuk kelompok hotel nonbintang dan akomodasi lainnya.
“Dibanding Juni 2025, TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya mengalami kenaikan 3,25 poin. Jika seluruh klasifikasi akomodasi digabungkan, TPK Kota Batu pada Juni mencapai 29,40 persen,” paparnya.
Secara keseluruhan, TPK Kota Batu pada Juni 2026 meningkat 4,80 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menunjukkan kapasitas kamar yang terserap semakin besar dibandingkan bulan sebelumnya maupun Juni 2025.
“Angka tersebut tidak hanya meningkat secara bulanan, tetapi juga lebih tinggi 4,80 poin dibandingkan Juni 2025. Kenaikan tingkat hunian ini menunjukkan sebagian kapasitas kamar hotel di Kota Batu kembali terserap lebih banyak dibandingkan bulan sebelumnya,” jelas Aries.
Meski okupansi meningkat, kondisi tersebut belum diikuti dengan bertambahnya durasi wisatawan tinggal. BPS mencatat RLMT pada Juni 2026 berada di angka 1,04 malam atau turun 0,02 poin dibandingkan Mei 2026.
Penurunan tersebut terutama terlihat pada tamu Indonesia. RLMT wisatawan domestik tercatat 1,04 malam, turun 0,02 poin secara bulanan. Meski demikian, angka tersebut masih meningkat 0,01 poin dibandingkan Juni 2025.
Berbeda dengan wisatawan domestik, tamu asing justru mencatat durasi menginap lebih panjang. RLMT tamu asing pada Juni 2026 mencapai 1,24 malam, meningkat 0,19 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Durasi menginap wisatawan asing tersebut juga mengalami peningkatan 0,21 poin dibandingkan Juni 2025.
“Namun, peningkatan okupansi belum diikuti bertambahnya durasi kunjungan wisatawan,” imbuh mantan Kepala Diskumperindag itu.
Jika dilihat berdasarkan jenis akomodasi, tamu hotel berbintang memiliki rata-rata lama menginap sedikit lebih tinggi dibandingkan tamu hotel nonbintang. RLMT hotel berbintang mencapai 1,07 malam, sedangkan hotel nonbintang dan akomodasi lainnya berada di angka 1,01 malam.
Secara keseluruhan, data BPS memperlihatkan adanya dua perkembangan berbeda pada sektor jasa akomodasi Kota Batu selama Juni 2026. Tingkat keterisian kamar mengalami pertumbuhan, baik secara bulanan maupun tahunan, sementara rata-rata durasi menginap wisatawan masih relatif pendek.(*)
.png)