Ramai-ramai Warga RI Tolak Proyek Data Center AI, Ternyata Benar Bisa Sedot Banyak Listrik dan Air

3 Oktober 2026 23:22 3 Okt 2026 23:22

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Ramai-ramai Warga RI Tolak Proyek Data Center AI, Ternyata Benar Bisa Sedot Banyak Listrik dan Air

Foto udara pembangunan data center di KEK Nongsa Digital Park, Selasa (16/6/2026). (Foto: Antara)

KETIK, JAKARTA – Rencana pembangunan pusat data atau data center artificial intelligence (AI) berskala besar di sejumlah wilayah Indonesia mendapat perhatian publik, bahkan menyampaikan penolakan.

Selain membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar, untuk menjalankan ribuan perangkat komputasi, pusat data ternyata juga membutuhkan air dalam jumlah banyak untuk sistem pendinginan.

Hal tersebut dibenarkan oleh Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, Profesor Agustino Zulys, melalui unggahan video edukasi di akun Instagram pribadinya, dikutip Ketik.com pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Ia mengatakan bahwa pusat data AI membutuhkan air sebagai salah satu media untuk menjaga suhu perangkat keras agar tidak terlalu panas.

“Menggunakan AI akan mengurangi air minum kita? Betul, data center AI butuh air bersih, tapi bukan untuk diminum, melainkan untuk mendinginkan agar otaknya tidak kepanasan,” ujar Prof Zulys.

Menurut Prof Zulys, ketika masyarakat memberikan perintah kepada AI, proses tersebut melibatkan ribuan chip di pusat data. Chip menjalankan miliaran operasi komputasi yang membutuhkan listrik sekaligus menghasilkan panas.

“Ketika kita bertanya kepada AI, jawaban yang muncul dalam beberapa detik itu sebenarnya dikerjakan ribuan otak atau chip di data center. Chip melakukan miliaran operasi, itu membutuhkan listrik, menghasilkan panas,” katanya.

Ia mengibaratkan beban kerja chip seperti manusia yang sedang berpikir keras.

“Jadi gampangnya, AI itu seperti mahasiswa mau ujian. Makin berat mikirnya, makin panas kepalanya. Kalau tidak segera didinginkan, mesin data bisa rusak. Prosesnya menggunakan air. Kenapa air? Air sebagai materi menakjubkan yang punya kapasitas panas tinggi,” ucap Prof Zulys.

Besarnya kebutuhan air juga menjadi perhatian seiring meningkatnya penggunaan AI. Prof Zulys merujuk penelitian University of California, Riverside bersama University of Colorado mengenai konsumsi air dalam pemrosesan model AI.

Ia menyebut model seperti GPT-3 diperkirakan membutuhkan sekitar setengah liter air untuk setiap 50 respons.

“Studi dari UC Riverside dan Colorado memperkirakan model AI seperti GPT-3 minum sekitar setengah liter air untuk 50 respon, kira-kira 50 mililiter air per satu jawaban. Tapi kalau yang pakai ribuan orang, skalanya jadi bikin kaget,” ujarnya.

Prof Zulys juga menyebut pusat data berkapasitas 100 megawatt dapat menggunakan sekitar 2 juta liter air dalam sehari. Jumlah tersebut disebut setara dengan kebutuhan sekitar 6.500 rumah tangga.

Di tengah kebutuhan tersebut, Indonesia justru menjadi salah satu lokasi yang dilirik pengembang pusat data berskala besar.

Sepanjang 2026, sejumlah pengembang global dan perusahaan dalam negeri mengumumkan rencana pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan kapasitas ratusan megawatt hingga gigawatt.

Rencana tersebut tersebar di Bekasi, Purwakarta, Cikarang, Batam hingga Bintan.

Batam menjadi salah satu lokasi yang paling banyak dituju pengembang.

Berikut daftar delapan rencana proyek pusat data yang diumumkan sepanjang 2026:

  1. Digital Edge – Bekasi
    CGK Campus di GIIC, Bekasi, dengan investasi US$4,5 miliar atau sekitar Rp80 triliun. Kapasitas 500 MW dan dapat ditingkatkan hingga 1 GW. Gedung pertama ditargetkan melayani pelanggan pada kuartal IV 2026.

  2. DayOne – Batam
    Kampus hyperscale di Kawasan Industri Kabil dengan dukungan listrik sekitar 450 MW. PPA dengan PLN Batam diumumkan April 2026 dan pasokan listrik diberikan bertahap hingga 2027.

  3. EGSB/RangeIDC – Batam
    Pusat data AI di Teluk Mata Ikan, Nongsa, dengan rencana investasi sekitar US$5 miliar atau Rp89 triliun di lahan sekitar 30 hektare. Perjanjian kelistrikan telah diteken, tetapi kapasitas dan jadwal pembangunan belum diungkapkan.

  4. NeutraDC – Batam dan Cikarang
    NeutraDC menyiapkan gedung BTM-2 di Batam serta ekspansi hyperscale hingga 200 MW di Cikarang. Bersama Danantara, Telkom juga merencanakan pusat data AI hingga 1 GW di Batam, Jabodetabek, Jawa dan Manado.

  5. Firmus, Nvidia dan DayOne – Batam
    AI Factory berkapasitas 360 MW yang dirancang menampung hingga 170.000 akselerator Nvidia. Pembangunan telah dimulai dan ditargetkan beroperasi pada kuartal I 2027.

  6. BDx Data Centers – Purwakarta
    AI Campus 2 atau CGK4 di Jatiluhur dengan kapasitas 640 MW dan dukungan daya jaringan 845 MVA. Groundbreaking dilakukan 22 September 2026, dengan gedung pertama berkapasitas 120 MW ditargetkan beroperasi pada awal 2027.

  7. CoreWeave – Indonesia
    CoreWeave merencanakan tiga fasilitas dengan total kapasitas 360 MW daya listrik teknologi informasi. Proyek ditargetkan beroperasi pada 2028, tetapi lokasi belum diumumkan.

  8. SOS Limited – Bintan
    Kampus pusat data AI sekitar 500 MW di KEK Galang Batang. Fase pertama direncanakan 50 MW apabila proyek berlanjut. Rencana masih dalam tahap awal dan menunggu proses uji tuntas serta perjanjian definitif.(*)

Tombol Google News

Tags:

Data Center Indonesia Investasi Data Center Kecerdasan Buatan Ai Indonesia Digital Edge Dayone Neutradc Bdx Data Centers Coreweave Batam Bekasi Purwakarta Cikarang Bintan Konsumsi Air Pendinginan Data Center Berita Jakarta info jakarta