Kemarau Malah Jadi Berkah, Harga Tembakau Petani Pacitan Tembus Rp55 Ribu per Kilogram

12 Oktober 2026 12:49 12 Okt 2026 12:49

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Kemarau Malah Jadi Berkah, Harga Tembakau Petani Pacitan Tembus Rp55 Ribu per Kilogram

Pedagang tembakau menanti kedatangan pembeli di Pasar Arjowinangun, Pacitan. Harga tembakau di Kabupaten Pacitan tahun ini mencapai Rp55.000 per kilogram untuk tembakau dalam bentuk janturan atau daun utuh yang dikeringkan tanpa dirajang. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.com)

KETIK, PACITAN – Musim kemarau panjang dampak fenomena El-Nino ternyata malah membawa berkah bagi petani tembakau di Kabupaten Pacitan. 

Kondisi cuaca yang mendukung produksi turut diikuti harga jual yang menguat, bahkan mencapai Rp55.000 per kilogram untuk tembakau dalam bentuk janturan atau daun utuh yang dikeringkan tanpa dirajang.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Muhtar Yahya, mengatakan areal tanam tembakau di Pacitan pada 2026 mencapai 513 hektare. 

Hingga September, sebanyak 443 hektare telah dipanen dengan total produksi mencapai 523,10 ton.

“Rata-rata produktivitas tembakau saat ini di petani Kabupaten Pacitan itu ada 1,1 ton per hektare,” kata Muhtar kepada Ketik.com, Senin, 12 Oktober 2026.

Menurutnya, produktivitas tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang berada di kisaran 9 kuintal per hektare. 

Tahun ini, produktivitas tembakau Pacitan diperkirakan mencapai 1,1 hingga 1,5 ton per hektare.

Muhtar menjelaskan, panen tembakau dimulai pada Agustus 2026 dan diperkirakan berlangsung hingga pertengahan November. 

Kondisi musim kemarau dinilai mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman, terutama saat memasuki fase menjelang panen.

“Setelah umur dua bulan sampai nanti menjelang panen itu memang untuk pengairannya lebih dikurangi. Dan musim panas ini sangat mendukung, sehingga di sisi petani tembakau memang ini puncak-puncaknya panen dan puncak-puncak baik-baiknya untuk produksi. Sehingga harganya juga mendukung,” ujarnya.

Dari sisi harga, tembakau yang dipasarkan melalui kemitraan dengan perusahaan menunjukkan nilai jual yang cukup baik. 

Tembakau jenis Kasturi dan Grompol dalam bentuk rajangan kering yang diserap PT AOI Station Klaten memiliki harga rata-rata sekitar Rp45.000 per kilogram. 

Harga tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang berkisar Rp30.000 per kilogram.

"Yang ke Klaten itu dibuat untuk bahan tembakau rokok Sampoerna," ungkapnya.

Sementara itu, tembakau Virginia yang diserap PT Sadana di Ponorogo memiliki harga sekitar Rp35.000 per kilogram. 

Adapun tembakau yang dipasarkan ke PT AOI Station Lumajang dalam bentuk janturan, yakni daun utuh yang dikeringkan tanpa dirajang, dapat mencapai Rp55.000 per kilogram. 

Produk tersebut digunakan sebagai bahan baku cerutu.

“Jadi saat ini memang harga itu memang bagus, terutama di jenis Kasturi yang diambil oleh PT AOI Klaten sama PT AOI Lumajang. Dan di Lumajang itu lebih tinggi lagi karena itu janturan. Janturan itu digunakan untuk bahan baku cerutu,” kata Muhtar.

Berdasarkan data DKPP Pacitan, tembakau dibudidayakan di sejumlah kecamatan dengan varietas Virginia, Kasturi, Jawa, Grompol Jatim 1, dan White Burley.

Kecamatan Tegalombo menjadi wilayah dengan areal tanam terbesar, mencapai 110 hektare. 

Dari luasan tersebut, 99 hektare telah dipanen dengan produksi sekitar 125 ton. 

Kecamatan Kebonagung menyusul dengan areal tanam 80 hektare, Punung 77 hektare, Pacitan 45 hektare, Nawangan 41 hektare, dan Bandar 36 hektare.

Pemerintah Kabupaten Pacitan juga memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas melalui kegiatan prapanen maupun pascapanen.

Dukungan tersebut diharapkan dapat menunjang produksi dan produktivitas petani di tengah berlangsungnya musim panen.

"Alhamdulillah, target pemerintah dalam pengembangan tembakau tahun ini telah terpenuhi," ungkapnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Tembakau Pacitan Harga Tembakau Musim Kemarau Petani tembakau Panen Tembakau DKPP Pacitan DBHCHT Berita pacitan Info Pacitan