Gus Tamim: Santri Blitar Harus Kuasai Teknologi, Kitab Kuning Tetap Jadi Pegangan

23 Oktober 2026 10:13 23 Okt 2026 10:13

Favan Abu R.

Editor
Thumbnail Gus Tamim: Santri Blitar Harus Kuasai Teknologi, Kitab Kuning Tetap Jadi Pegangan

Anggota DPRD Jawa Timur, Ahmad Tamim atau akrab disapa Gus Tamim saat Apel Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Alun-Alun Kanigoro, Kabupaten Blitar, Kamis 22 Oktober 2026 malam. (Foto: Favan/Ketik.com)

KETIK, BLITAR – Tantangan santri di era digital bukan lagi sekadar menjaga tradisi pesantren, melainkan bagaimana mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan akar keilmuan agama. Anggota DPRD Jawa Timur, Ahmad Tamim, menilai dua hal tersebut harus berjalan beriringan untuk melahirkan generasi santri yang unggul dan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang akrab disapa Gus Tamim itu menyampaikan pandangannya setelah menghadiri Apel Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Alun-Alun Kanigoro, Kabupaten Blitar, Kamis 22 Oktober 2026 malam.

Menurutnya, santri masa kini memiliki medan perjuangan yang berbeda dengan generasi pendahulu. Jika dahulu para ulama dan santri berjuang mempertahankan kemerdekaan dari penjajah, kini perjuangan itu harus diteruskan melalui pendidikan, penguasaan ilmu, inovasi, dan kontribusi nyata bagi bangsa.

Gus Tamim mengingatkan, Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober tidak bisa dilepaskan dari sejarah Resolusi Jihad 1945. Seruan perjuangan yang digelorakan para ulama tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian perlawanan rakyat, termasuk peristiwa 10 November di Surabaya yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

“Hari Santri ini tanggalnya 22 Oktober, yang kemudian terusannya adalah 10 November. Jadi, jangan lupa Hari Pahlawan 10 November itu berawal dari semangat Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober,” ungkapnya.

Namun, menurut Gus Tamim, mewarisi semangat perjuangan tidak berarti harus mengulang bentuk perlawanan yang sama. Generasi muda saat ini memiliki tanggung jawab mengisi kemerdekaan dengan kemampuan dan karya yang bermanfaat.

“Maka, anak-anak negeri hari ini jihadnya apa, perangnya apa? Ya, tidak mungkin perang melawan penjajah. Perangnya adalah mengisi kemerdekaan,” tegasnya.

Semangat tersebut, lanjut dia, perlu diterjemahkan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan santri. Pesantren harus menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan menghadapi perubahan sosial dan teknologi

Gus Tamim menilai, penghargaan terhadap santri berprestasi dalam bidang teknologi pada peringatan Hari Santri di Kabupaten Blitar menjadi gambaran bahwa pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan inovator.

Dalam kegiatan tersebut, santri yang meraih prestasi di bidang robotik dan rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut mendapatkan penghargaan.

Capaian itu, menurutnya, menunjukkan bahwa dunia pesantren tidak tertutup terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Santri memiliki peluang yang sama untuk berkiprah dalam berbagai bidang, termasuk teknologi yang kini semakin menentukan arah kehidupan masyarakat.

“Santri juga harus melek teknologi. Tidak mungkin santri tidak adaptif dengan teknologi,” ujarnya.

Meski demikian, Gus Tamim mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat santri tercerabut dari tradisi keilmuan pesantren. Penguasaan perangkat digital dan kecerdasan buatan perlu disertai pendalaman ilmu agama sebagai fondasi berpikir dan bertindak.

Ia menegaskan, kitab kuning dan ilmu modern bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling melengkapi untuk membentuk santri yang memiliki wawasan luas, karakter kuat, dan kemampuan menjawab persoalan kontemporer.

Pandangan itu, kata Gus Tamim, sejalan dengan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama (NU), yakni menjaga warisan lama yang baik sekaligus mengambil pembaruan yang membawa manfaat.

“Jangan mempertentangkan kitab kuning dengan ilmu modern, tetapi komparasikan. Mengajinya tetap, teknologinya dikuasai, sehingga nanti santri benar-benar aktual sesuai dengan era dan zamannya,” tandasnya.

Dengan pendekatan tersebut, santri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga tampil sebagai pelaku perubahan. Bekal ilmu pesantren dan kecakapan teknologi menjadi modal untuk menghadapi tantangan masa depan sekaligus mengisi kemerdekaan dengan karya.

Tombol Google News

Tags:

Gus Tamim Hari Santri Kitab Kuning teknologi Blitar