KETIK, LEBAK – Di rumah berukuran 3 x 5 meter di Kampung Ci Cenang, Desa Pasirkupa, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, Abdullah tinggal bersama istri dan dua anaknya.
Dinding rumah itu terbuat dari anyaman bambu. Sebagian materialnya berasal dari bahan bekas. Kayu penyangga atap pun mulai lapuk dimakan usia. Saat hujan deras disertai angin kencang, rasa waswas tak bisa dihindari.
Di rumah sederhana itulah Abdullah beristirahat setelah mengajar. Sejak 2024, ia menjadi guru swasta di salah satu sekolah di Kecamatan Kalanganyar.
Penghasilannya sebagai guru sangat terbatas. Setiap bulan ia menerima Rp 225.000 ditambah Rp 25.000, sehingga total sekitar Rp 250.000.
"Mulai mengajar dari tahun 2024 sampai sekarang. Setiap bulan saya menerima Rp 225.000, ditambah Rp 25.000. Jadi, setiap bulan sekitar Rp 250.000," kata Abdullah, Kamis (8/10/2026).
Penghasilan itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk menambah pemasukan, Abdullah berjualan makanan ringan kepada siswa di sela mengajar.
"Saya memiliki dua anak. Sambil mengajar di sekolah, saya juga membawa jajanan untuk anak-anak sekolah. Itu saya lakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Keterbatasan ekonomi membuatnya belum mampu memperbaiki rumah. Bangunan itu berdiri di atas tanah milik mertuanya.
Dari luar, kesederhanaan rumah terlihat jelas. Anyaman bambu sebagai dinding utama sudah menua, kayu penopang atap mulai rapuh.
"Rumah ini ukurannya sekitar 3 x 5 meter. Dibangun menggunakan bahan material bekas. Sekarang kayu-kayu penahan atap sudah mulai lapuk. Kadang saya khawatir kalau hujan lebat dan angin kencang," kata Abdullah.
Keinginan memiliki rumah yang lebih layak selalu ada. Namun dengan pendapatan yang ada, harapan itu sulit terwujud.
"Terkadang saya suka berpikir ingin membangun rumah ini supaya lebih layak. Tapi dengan kondisi penghasilan saya seperti sekarang, rasanya tidak akan sampai untuk mewujudkan impian membangun rumah," tuturnya.
Meski berpenghasilan kecil, Abdullah tetap menjalani profesinya sebagai guru selama lebih dari dua tahun.
Di tengah keterbatasan, persoalan kesehatan keluarga juga menjadi beban. Kepesertaan BPJS Kesehatan miliknya masih aktif, sementara milik istri dan kedua anaknya sudah tidak aktif.
"Setelah anak kedua saya lahir, BPJS anak-anak dan ibunya sudah tidak aktif. Hanya saya yang masih aktif. Kalau mereka mau berobat, kami ke puskesmas dan membayar sebagai pasien umum," ujarnya.
Harapannya sederhana. Bukan rumah mewah, melainkan tempat tinggal yang kokoh saat hujan dan angin datang. Rumah yang membuatnya bisa tetap mengajar dan mencari nafkah tanpa dihantui kekhawatiran akan kondisi tempat tinggalnya. (*)
