KETIK, MALANG – Bibit Jagung Bhayangkara menunjukkan potensi untuk dikembangkan di lahan dengan kondisi tanah liat dan cenderung basah. Dalam uji coba di lahan percontohan yang dipanen Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Cemorokandang bersama jajaran Polri di Kota Malang, Minggu, 18 Oktober 2026, produktivitasnya disebut mencapai lebih dari 10 ton per hektare.
Sales and Marketing Manager PT Winmar, Dedy Supomo, mengatakan salah satu keunggulan Jagung Bhayangkara adalah kemampuan beradaptasi dengan kondisi lahan yang beragam. Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan tanaman di lahan percontohan yang memiliki karakteristik tanah liat dan relatif basah.
Menurut Dedy, tanaman jagung tersebut dapat tumbuh dengan baik meskipun menghadapi kondisi lahan yang cukup menantang. Selain pertumbuhan yang dinilai optimal, tanaman di lahan percontohan itu juga tidak menunjukkan gejala penyakit busuk batang yang kerap dikhawatirkan petani.
“Yang pertama, jagung ini adaptif, artinya tahan di berbagai kondisi lahan. Kami mencoba di lahan yang cukup ekstrem, dengan tanah liat atau becek. Ternyata Jagung Bhayangkara masih bisa tumbuh dengan baik dan subur,” ujarnya.
Dedy menambahkan, selama masa budidaya di lahan percontohan tersebut, tanaman juga tidak menunjukkan gejala penyakit bulai. Penyakit ini menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai petani, terutama pada fase awal pertumbuhan jagung.
“Dari awal sampai akhir, hasilnya cukup memuaskan. Tidak ada gejala penyakit busuk batang. Untuk penyakit bulai, yang biasanya dikhawatirkan petani saat tanaman masih kecil, di lahan percontohan ini juga tidak ada yang terserang,” jelasnya.
Selain kemampuan adaptasi, Dedy menyebut Jagung Bhayangkara tidak membutuhkan pola perawatan khusus. Pemeliharaannya tetap mengikuti praktik budidaya jagung pada umumnya, mulai dari pembumbunan hingga penyemprotan.
Jagung Bhayangkara disebut memiliki sejumlah keunggulan, termasuk mampu hidup di kondisi ekstrem. (Foto: Dendy/Ketik.com)
Penyesuaian dilakukan pada pengelolaan air karena kondisi tanah di lahan percontohan cenderung basah. Tim membuat saluran air untuk membantu mengurangi genangan dan menjaga kondisi lahan agar tidak terlalu becek.
“Perawatannya sebenarnya standar saja, sama seperti jagung pada umumnya. Karena kemarin tanahnya agak basah atau becek, kami membuat saluran air atau got supaya kondisi tanah tidak terlalu becek. Itu saja yang membedakan,” paparnya.
