KETIK, NAGAN RAYA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Tempat Pengajian Anak (TPA) Sahabat Penyejuk Hati, Desa Suak Palembang, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Senin (5/10/2026) malam.
Tidak ada kemewahan yang menjadi penanda utama dalam kegiatan tersebut. Namun, kesederhanaan justru terasa menyatu dengan antusiasme warga yang datang untuk mengikuti peringatan sekaligus mendengarkan tausiah yang disampaikan Ustaz Anugrah Cahyadi atau Ucay.
Di hadapan jamaah, Ucay mengingatkan bahwa Maulid Nabi semestinya tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, kata dia, harus menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk kembali mengingat perjuangan, kehidupan, serta akhlak Nabi yang menjadi teladan bagi umat.
Ceramah Ucay tidak terpaku pada satu pokok bahasan. Ia mengajak jamaah merenungkan berbagai persoalan kehidupan, mulai dari keimanan, ketakwaan, ibadah dan salat, hingga sakaratul maut serta kehidupan setelah kematian.
Kisah-kisah kehidupan Rasulullah juga disampaikan untuk menggambarkan bagaimana akhlak dan keteladanan Nabi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Ucay, nilai sebuah peringatan Maulid bukan diukur dari seberapa besar acara digelar atau seberapa banyak biaya yang dikeluarkan. Yang lebih penting adalah niat, kecintaan kepada Rasulullah, serta kesungguhan untuk mengamalkan pesan-pesan kebaikan yang disampaikan.
“Walaupun acara ini dikemas secara sederhana, namun percayalah kegiatan ini tetap dirahmati dan dicintai Rasulullah,” kata Ucay saat menyampaikan tausiah.
Gaya ceramah Ucay yang diselingi humor membuat suasana di tengah jamaah sesekali diwarnai tawa. Meski demikian, pesan yang disampaikannya tetap mengarah pada nilai-nilai keagamaan dan ajakan untuk memperbaiki diri.
Penceramah asal Batu Bara, Sumatera Utara, itu dikenal memiliki gaya dakwah yang dekat dengan masyarakat. Logat Melayu Sumatera Utara yang menjadi ciri khasnya berpadu dengan penyampaian yang ringan, sehingga pesan agama terasa lebih mudah diterima jamaah dari berbagai kalangan.
Nama Ucay semakin dikenal setelah mengikuti ajang pencarian bakat dakwah AKSI Indosiar pada 2022. Setelah itu, ia aktif mengisi berbagai kegiatan keagamaan di sejumlah daerah.
Dalam ceramahnya di Nagan Raya, Ucay kembali menekankan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan memperingati hari kelahirannya.
Kecintaan tersebut, menurut dia, harus terlihat dalam perilaku sehari-hari, terutama dengan berusaha mengikuti akhlak Rasulullah dalam hubungan dengan keluarga, tetangga, maupun sesama umat manusia.
Peringatan Maulid di TPA Sahabat Penyejuk Hati akhirnya tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya para santri dan masyarakat. Kegiatan itu juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus menghidupkan kembali semangat meneladani Rasulullah.
Dari sebuah perayaan yang digelar sederhana, pesan yang dibawa justru menyentuh hal paling mendasar dalam kehidupan seorang Muslim: mencintai Rasulullah bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan berusaha mengikuti ajaran dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. (*)
