KETIK, MALANG – Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Pelatihan Konselor Sebaya selama dua hari, Kamis–Jumat, 8-9 Oktober 2026, di Ruang Meeting Lantai 1 Fakultas Syariah. Kegiatan ini diikuti 40 mahasiswa terpilih dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Hukum Tata Negara (HTN), Hukum Ekonomi Syariah (HES), serta perwakilan DEMA Fakultas Syariah.
Para peserta merupakan mahasiswa yang memiliki minat dan potensi di bidang konseling sebaya. Pelatihan menghadirkan tiga narasumber, yakni Roro Nia Paramita Yusuf, M.Si., M.Psi., Psikolog; Risa Rahmawati, M.Psi., Psikolog; dan Dr. Elok Halimatus Sa’diyah, M.Si., Ahli Psikologi Perkembangan Fakultas Psikologi UIN Malang.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Syariah Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag., didampingi Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dr. H. Miftahul Huda, S.H.I., M.H., para narasumber, dan Ketua Panitia Dr. Nur Fadilah, M.H.
Ketua Panitia Dr. Nur Fadilah, M.H., mengatakan pelatihan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar mendengar, memahami, dan mendampingi teman sebaya yang membutuhkan dukungan.
“Menjadi konselor sebaya bukan tentang menjadi orang yang memiliki semua jawaban. Ini tentang menjadi seseorang yang hadir ketika teman kita sedang membutuhkan ruang untuk bercerita,” ujarnya dalam sambutan.
Ia berharap pelatihan tidak berhenti pada pelaksanaan selama dua hari, tetapi menjadi awal terbentuknya mahasiswa yang lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
“Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti pada dua hari kegiatan, tetapi menjadi awal lahirnya mahasiswa-mahasiswa yang lebih peka, lebih peduli, dan mampu menjadi bagian dari ekosistem dukungan di lingkungan kampus melalui Family Corner,” katanya.
Peserta Pelatihan Konselor Sebaya diajak memahami bahwa kemampuan mendengarkan secara aktif merupakan dasar dalam memberikan bantuan psikologis. Mereka dilatih sejumlah keterampilan, seperti attending, mengajukan pertanyaan terbuka, melakukan parafrase, merefleksikan perasaan, dan melakukan klarifikasi. (Foto: Fakultas Syariah UIN Malang)
Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag., menilai keberadaan konselor sebaya menjadi kebutuhan penting di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, persoalan psikologis yang dihadapi mahasiswa tidak selalu terlihat secara kasatmata.
“Seorang mahasiswa dapat tetap hadir di kelas sambil menyimpan kelelahan emosional yang tidak diketahui orang lain. Karena itu, persoalan psikologis di lingkungan kampus perlu dilihat bukan hanya ketika sudah menjadi krisis, tetapi sejak tanda-tanda awal mulai muncul,” tuturnya.
Dalam kondisi tersebut, teman sebaya sering kali menjadi orang pertama yang menjadi tempat bercerita. Kedekatan usia, pengalaman, dan lingkungan keseharian membuat mahasiswa lebih mudah membuka diri kepada teman yang dianggap memahami kondisi mereka.
Menurut Umi, kondisi tersebut membuat konselor sebaya memiliki peran strategis. Mahasiswa yang mendapatkan pelatihan dapat menjadi bagian dari lingkungan dukungan dengan keterampilan mendengarkan dan merespons cerita teman secara tepat, tanpa mengambil peran yang seharusnya ditangani tenaga profesional.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara mahasiswa dan dosen dalam membangun lingkungan kampus yang peduli terhadap kondisi mahasiswa. Menurutnya, keterampilan konseling sebaya menjadi salah satu keterampilan pendukung yang bermanfaat bagi mahasiswa dalam membangun komunikasi dan kepedulian di lingkungan kampus.
“Terima kasih atas kerja keras dan kerja sama seluruh panitia yang telah menyukseskan kegiatan Pelatihan Konselor Sebaya ini. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat dan dapat ditindaklanjuti secara berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui pelatihan konselor sebaya, Fakultas Syariah UIN Malang mendorong terbentuknya mahasiswa yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepedulian, kepekaan, dan keterampilan interpersonal dalam mendukung sesama mahasiswa. (Foto: Fakultas Syariah UIN Malang)
Latih Active Listening melalui Simulasi
Sesi pertama pelatihan menghadirkan Roro Nia Paramita Yusuf, M.Si., M.Psi., Psikolog, yang menyampaikan materi “Active Listening and Basic Helping Skill”. Materi diberikan melalui pemaparan sekaligus praktik dan simulasi.
Peserta diajak memahami bahwa kemampuan mendengarkan secara aktif merupakan dasar dalam memberikan bantuan psikologis. Mereka dilatih sejumlah keterampilan, seperti attending, mengajukan pertanyaan terbuka, melakukan parafrase, merefleksikan perasaan, dan melakukan klarifikasi.
Selain itu, peserta dikenalkan dengan pentingnya respons empatik agar seseorang merasa aman, didengar, dan tidak sendirian ketika menyampaikan persoalan yang dihadapinya.
“Sering kali orang tidak membutuhkan solusi terlebih dahulu, tetapi membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan,” menjadi salah satu pesan penting dalam sesi tersebut.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, Roro Nia menggunakan metode permainan. Salah satunya melalui permainan merangkai sedotan. Masing-masing peserta mendapatkan sedotan yang telah disiapkan panitia dan diminta menyusunnya dalam sebuah aktivitas yang mendorong komunikasi, perhatian, dan kerja sama.
Metode praktik tersebut membuat peserta tidak hanya menerima materi secara teoretis, tetapi juga terlibat langsung dalam proses belajar dan simulasi keterampilan mendengarkan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi pelatihan. Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dr. H. Miftahul Huda, S.H.I., M.H., mengapresiasi keterlibatan aktif mahasiswa dalam mengikuti rangkaian kegiatan.
Ia berharap antusiasme tersebut menjadi modal awal bagi para peserta untuk mengembangkan keterampilan konseling sebaya dan berkontribusi dalam membangun ekosistem dukungan bagi mahasiswa di lingkungan Fakultas Syariah.
Melalui pelatihan ini, Fakultas Syariah mendorong terbentuknya mahasiswa yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepedulian, kepekaan, dan keterampilan interpersonal dalam mendukung sesama mahasiswa.
