Idham Arsyad Raih Gelar Doktor di UB, Kupas Resiliensi Pangan Urban Melalui Strategi Contract Farming

14 Juli 2026 21:07 14 Jul 2026 21:07

Nurul Aliyah, Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Idham Arsyad Raih Gelar Doktor di UB, Kupas Resiliensi Pangan Urban Melalui Strategi Contract Farming

Idham Arsyad melaksanakan ujian terbuka disertasi di Universitas Brawijaya (UB) pada Selasa, 14 Juli 2026. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Ketua Umum Gerbang Tani sekaligus Ketua DPP PKB Bidang Pengelolaan Organisasi, Legislatif, dan Eksekutif, Idham Arsyad, resmi menyandang gelar doktor. Gelar tersebut diraihnya usai mempertahankan disertasi dalam Ujian Terbuka Program Studi Ilmu Ketahanan Nasional, Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB) pada Selasa, 14 Juli 2026, di Gedung Widyaloka UB. 

Dalam sidang tersebut, Idham mempresentasikan penelitian mendalam berjudul "Resiliensi Sistem Pangan dalam Menunjang Ketahanan Nasional Melalui Strategi Contract Farming (Studi Kasus PT. Food Station Tjipinang Jaya DKI Jakarta)".

Dalam ujian doktor ini, terdapat tujuh penguji yang menilai seluruh jawaban Idham dalam mempertahankan hasil penelitiannya. Para penguji tersebut di antaranya adalah Prof. Dr. Moh. Khusaini, S.E., M.A.; Prof. Dr. Ir. Soemarno, M.S.; Prof. Dr. Moh. Fadli, S.H., M.Hum.; Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, S.P., M.P.; Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si.; Prof. Dr. Ir. Harsuko Rinawati, M.P.; dan Prof. Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono, M.Si.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap subjek penelitiannya, Idham secara khusus mengundang para petani yang telah membantunya selama proses pengambilan data di lapangan.

Dari riset tersebut, Idham berhasil memotret profil demografi petani mitra secara presisi. Tercatat 50,83 persen petani berstatus penyewa atau penggarap, 65 persen petani berusia lebih dari 50 tahun, dan 8,34 persen petani berusia di bawah 40 tahun.

Dalam proses penelitiannya, Idham menemukan fakta bahwa mayoritas petani tidak memiliki lahan sendiri sehingga mereka harus bercocok tanam di ladang milik orang lain setiap harinya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi para pemangku kebijakan dalam menyejahterakan para petani.

Riset ini sengaja berfokus pada komoditas beras sebagai kebutuhan pokok paling dominan bagi masyarakat DKI Jakarta. Idham membeberkan fakta bahwa Jakarta tengah menghadapi tantangan ketahanan pangan urban yang sangat ekstrem. Dengan kepadatan penduduk mencapai 16.155 jiwa/km², ibu kota memiliki ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah (eksternal) hingga mencapai 95 persen.

Sebagai solusi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan skema contract farming melalui BUMD PT Food Station Tjipinang Jaya, yang berkolaborasi dengan 185 kelompok tani di 40 kabupaten/kota. Contract farming adalah sistem kerja sama antara petani dan perusahaan atau pembeli sebelum masa tanam.

Penelitian Idham menempatkan resiliensi sistem pangan sebagai bagian integral dari ketahanan nasional, khususnya pada gatra ekonomi dan pangan. Riset ini berfokus pada komoditas beras serta faktor perilaku petani di tingkat mikro, yang nantinya membentuk karakteristik kelembagaan di tingkat makro. Melalui proses tersebut, efektivitas contract farming hingga resiliensi sistem pangan dapat diketahui secara komprehensif.

Berlandaskan Social-Ecological Systems Theory dan Food System Resilience Theory, penelitian ini menghasilkan Model BIRCF (Behavioral-Institutional Resilience Contract Farming). Melalui model ini, ditemukan tiga paradoks empiris, yaitu kesenjangan resiliensi-produktivitas, kesenjangan pasar-modal, serta kesenjangan pengetahuan adopsi teknologi. Ketiga paradoks tersebut lahir karena desain kontrak yang masih bersifat transaksional (off-take), alih-alih berfokus pada peningkatan kapasitas (upgrading).

Idham merekomendasikan agar PT Food Station Tjipinang Jaya bersama para pemangku kebijakan memprioritaskan penguatan kapasitas kelembagaan kelompok tani demi efektivitas kemitraan. Selain itu, pemerintah perlu menyediakan peta diagnostik untuk mengatasi kesenjangan akses modal serta mempercepat adopsi teknologi.

Temuan ini dinilai sangat relevan dalam perumusan kebijakan tata kelola pangan perkotaan, reforma agraria, hingga program regenerasi petani dalam rangka penguatan ketahanan nasional.

Saat menutup presentasi disertasinya, Idham menegaskan pentingnya penguatan kelembagaan dalam sistem contract farming.

"Contract farming yang dirancang dengan dimensi kelembagaan yang kuat merupakan instrumen efektif membangun resiliensi sistem pangan urban yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Kontribusi nyata bagi ketahanan nasional," ujar Idham menutup presentasi.

Atas pemaparan komprehensif dan performa akademisnya yang gemilang, dewan penguji menganugerahi Idham nilai 85,95 (A) dengan predikat Sangat Memuaskan. Ia pun resmi menyandang gelar Doktor, membawa riset yang diharapkan mampu menjadi rujukan strategis bagi pemerintah dalam merancang kebijakan pangan nasional. (*)

Tombol Google News

Tags:

Idham Arsyad Ujian Disetasi Ub Universitas Brawijaya Kampus Malang Kota Malang Contract Farming