Akademisi Perempuan UIN Malang Bahas Perspektif Gender dan Pencegahan Radikalisme di Mesir

17 Oktober 2026 18:54 17 Okt 2026 18:54

Nurul Aliyah, Dendy Ganda K.

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Akademisi Perempuan UIN Malang Bahas Perspektif Gender dan Pencegahan Radikalisme di Mesir

Dekan Fakultas Syariah UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. (dua dari kanan), mengikuti seminar interaktif yang diselenggarakan PCI Fatayat NU Mesir bersama Himmah Mesir di Aula KMJ, Hay Asyir, Kairo, Mesir, Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Fakultas Syariah UIN Malang)

KETIK, MALANG – Penguatan perspektif gender dalam studi hukum Islam, transformasi riset, dan pencegahan radikalisme menjadi sorotan dalam seminar interaktif yang diselenggarakan PCI Fatayat NU Mesir bersama Himmah Mesir di Aula KMJ, Hay Asyir, Kairo, Mesir, Jumat, 16 Oktober 2026.

Kegiatan ini diikuti anggota Fatayat NU, Persatuan Pelajar Indonesia, mahasiswa S-1 dan S-2 Al-Azhar, serta mahasiswa S-3 Canal Suez University. Seminar tersebut menghadirkan sejumlah akademisi perempuan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Mengusung tema “Strengthening Gender Perspectives in Islamic Law Studies and Advancing Research Transformation for the Development of Scholarship”, seminar ini menjadi ruang akademik untuk memperkuat perspektif gender dalam kajian keislaman sekaligus mendorong transformasi riset yang responsif terhadap perkembangan dan tantangan masyarakat kontemporer.

Narasumber yang hadir meliputi Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag., dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Prof. Dr. Hj. Wahidah, M.H.I., dari UIN Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan; Arifatun Nisa Birizqil Adhim, Ketua PCI Fatayat NU Mesir; Prof. Dr. Hj. Mufliha Wijayanti, M.Si., dari UIN Jurai Siwo Lampung; Prof. Dr. Hj. Wardah Nuroniyah, M.H.I., M.Si., dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; serta Prof. Dr. Hj. Andi Sukmawati Assaad, S.Ag., M.Pd., dari UIN Palopo, Sulawesi Selatan.

Salah satu isu yang dibahas ialah peran perempuan dalam mencegah radikalisme di kalangan generasi muda, khususnya di tengah disrupsi digital.

Umi Sumbulah Tekankan Agensi Perempuan dalam Pencegahan Radikalisme

Dalam pemaparan bertajuk “Women’s Agency in Mitigating Radicalism Among Young People in the Era of Digital Disruption”, Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag., menyoroti pentingnya agensi perempuan dalam memperkuat ketahanan generasi muda terhadap narasi ekstrem di ruang digital.

Perkembangan media sosial, video pendek, gim, forum daring, dan berbagai kanal komunikasi digital telah mengubah pola interaksi generasi muda. Ruang digital tidak hanya menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi juga berpotensi menjadi medium penyebaran narasi kebencian, teori konspirasi, dan glorifikasi kekerasan.

Radikalisasi merupakan persoalan kompleks yang dapat berkaitan dengan pencarian identitas, perasaan ketidakadilan, isolasi sosial, hingga dinamika kelompok. Namun, paparan terhadap konten ekstrem tidak serta-merta menyebabkan seseorang mengalami radikalisasi.

Karena itu, pencegahan tidak cukup mengandalkan penghapusan konten atau pendekatan keamanan. Penguatan daya kritis, rasa memiliki, dan dukungan komunitas yang positif juga diperlukan untuk membangun ketahanan generasi muda terhadap narasi ekstrem.

Dalam konteks tersebut, agensi perempuan dipahami sebagai kapasitas untuk menafsirkan situasi, mengambil keputusan, menyusun strategi, dan mendorong perubahan sosial. Perempuan tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga dapat menjadi pendidik, mentor, penggerak komunitas, dan kreator konten digital yang menyebarkan pesan perdamaian.

Foto Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. (kanan), memaparkan “Women’s Agency in Mitigating Radicalism Among Young People in the Era of Digital Disruption” dalam seminar interaktif yang diselenggarakan PCI Fatayat NU Mesir bersama Himmah Mesir di Aula KMJ, Hay Asyir, Kairo, Mesir, Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Fakultas Syariah UIN Malang)Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. (kanan), memaparkan “Women’s Agency in Mitigating Radicalism Among Young People in the Era of Digital Disruption” dalam seminar interaktif yang diselenggarakan PCI Fatayat NU Mesir bersama Himmah Mesir di Aula KMJ, Hay Asyir, Kairo, Mesir, Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Fakultas Syariah UIN Malang)

Literasi Digital dan Dialog Jadi Strategi Pencegahan

Materi seminar mengidentifikasi empat ruang strategis bagi keterlibatan perempuan dalam pencegahan radikalisme, yakni keluarga, pendidikan, komunitas, dan ruang digital.

Di lingkungan keluarga, perempuan dapat membangun komunikasi terbuka dengan generasi muda, mendampingi penggunaan teknologi, dan membiasakan verifikasi informasi sebelum dibagikan. Di lingkungan pendidikan, perempuan dapat menjadi mentor dan fasilitator diskusi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Di tingkat komunitas, penguatan jejaring dukungan, kegiatan kolaboratif, dan ruang partisipasi yang inklusif dapat membantu generasi muda memperoleh lingkungan sosial yang positif. Sementara itu, di ruang digital, perempuan dapat memproduksi konten tandingan yang kredibel, empatik, kreatif, dan mudah dibagikan untuk merespons narasi kebencian.

Pendekatan dialogis juga menjadi bagian penting dari strategi pencegahan. Komunikasi yang menghakimi, mempermalukan seseorang di ruang publik, atau memberikan stigma secara terburu-buru justru berisiko menutup ruang dialog.

Sebaliknya, kesediaan mendengarkan, menguji klaim secara kritis, dan menawarkan dukungan konkret dapat memperkuat kepercayaan serta hubungan sosial. Pendekatan ini menempatkan pencegahan sebagai upaya membangun ketahanan bersama, bukan sekadar merespons individu yang dianggap bermasalah.

Pencegahan Radikalisme Membutuhkan Kolaborasi

Pencegahan radikalisme tidak dapat dibebankan kepada perempuan semata. Keluarga, lembaga pendidikan, organisasi perempuan, tokoh agama, komunitas, pemerintah, dan platform digital perlu berkolaborasi untuk memperkuat literasi digital serta menyediakan ruang yang aman dan inklusif bagi generasi muda.

Pelaksanaan program pencegahan juga perlu memperhatikan perlindungan privasi, keamanan data, dan prinsip nondiskriminasi. Upaya mitigasi harus berfokus pada pencegahan kekerasan dan tindakan ekstrem, bukan pelabelan seseorang atau kelompok berdasarkan identitas maupun latar belakangnya.

Pembahasan ini menegaskan relevansi perspektif gender dalam pengembangan keilmuan. Perempuan perlu ditempatkan sebagai subjek aktif yang mampu menghasilkan pengetahuan, mendorong perubahan sosial, dan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Melalui seminar interaktif ini, penguatan perspektif gender, transformasi riset, dan pemberdayaan perempuan menjadi agenda akademik yang saling berkaitan. Keterlibatan akademisi perempuan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia diharapkan dapat memperluas perspektif keilmuan sekaligus memperkuat kontribusi perempuan dalam membangun masyarakat yang inklusif, kritis, dan berorientasi pada perdamaian.

Tombol Google News

Tags:

Umi Sumbulah Fakultas Syariah Uin Malang UIN Malang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Pci Fatayat Nu Mesir Himmah Mesir Canal Suez University