KETIK, JAWA TIMUR – Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Gratis Indonesia Jawa Timur (GAPEMBI Jatim) menyampaikan sejumlah catatan terkait dinamika pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan.
Organisasi tersebut menilai berbagai perubahan kebijakan dan petunjuk teknis yang terjadi dalam waktu singkat telah menimbulkan kebingungan di kalangan pengelola dapur MBG.
Wakil Ketua Kerja Sama Antar Lembaga DPW GAPEMBI Jatim, Amnari, menjelaskan bahwa pada 25 Mei 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) menerbitkan Surat Edaran (SE) mengenai pelayanan bagi kelompok 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
"Di mana dalam surat edaran tersebut, setiap dapur MBG ditetapkan melayani sekitar 300 penerima manfaat dari kelompok 3B," katanya saat dikonfirmasi belum lama ini.
Menurut Amnari, kebijakan tersebut sebaiknya mempertimbangkan kondisi dan karakteristik masing-masing daerah. Ia mencontohkan, terdapat kecamatan dengan jumlah penerima manfaat MBG mencapai 45 ribu orang, sementara jumlah penerima dari kelompok 3B sekitar 3 ribu orang.
“Jika di satu kecamatan terdapat 15 dapur yang sudah beroperasi, maka 3 ribu penerima manfaat kelompok 3B dibagi ke 15 dapur, sehingga masing-masing dapur melayani sekitar 200 orang. Kondisi ini tentu tidak sesuai dengan ketentuan 300 penerima manfaat per dapur,” ujarnya.
Oleh karena itu, organisasi GAPEMBI mendorong adanya fleksibilitas dalam pelaksanaan kebijakan agar lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa perubahan aturan yang cukup sering terjadi membuat sejumlah investor dan relawan menjadi ragu dalam mendukung operasional program MBG.
“Kami sering menerima informasi mengenai kebijakan yang berubah-ubah. Hal ini membuat pelaksana di lapangan kesulitan menentukan langkah operasional yang tepat,” katanya.
Apalagi ada aturan mengenai perekrutan relawan yang mengharuskan tenaga operasional berasal dari kelompok desil 1 dan desil 2 tingkat kemiskinannya. Menurutnya, banyak dapur MBG telah merekrut tenaga kerja sebelum ketentuan tersebut diterbitkan.
“Kami telah memberikan kepastian kerja kepada para relawan yang sudah direkrut. Karena itu, tidak mudah jika harus mengganti mereka hanya untuk menyesuaikan aturan yang baru muncul di tengah proses pelaksanaan program,” katanya.
"Masak kita langsung Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mereka, kan tidak mungkin. Membuat aturan jangan tergesa-gesa kata kasarnya seakan mencari panggung kepada Presiden, jadi harap mempertimbangkan sesuai kebutuhan di lapangan," pungkasnya. (*)
Aturan MBG Kerap Berubah, GAPEMBI Jatim Sebut Pelaksana di Lapangan Kebingungan
11 Juni 2026 10:12 11 Jun 2026 10:12
Hanifuddin Musa, Mustopa
Redaksi Ketik.com
Ilustrasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang. (Foto: Lutfia/Ketik.com)
Tags:
SPPG gapembi jatim BGN MBG Aturan Sering BerubahBaca Juga:
Isu Bau Tak Sedap Dibantah, Dapur MBG Gili Timur Bangkalan Tegaskan Sesuai StandarBaca Juga:
Bikin Heran! SPPG di Pacitan Ini Berdampingan dengan Pertamini, Yakin Aman?Baca Juga:
Semarakkan HUT Kemerdekaan, SPPG Mojorejo 3 Taman Kota Madiun Hadirkan Menu MBG Nasi Merah PutihBaca Juga:
Buntut Keracunan MBG di Karo, Bos BGN Ancam Pecat Tidak Hormat Kepala SPPG yang LalaiBaca Juga:
Sambut Kemerdekaan RI, SPPG Mojorejo 3 Taman Kota Madiun Gelar Senam Sehat BersamaBerita Lainnya oleh Hanifuddin Musa
19 Agustus 2026 01:00
Tahu Enggak? Selain Indonesia, Ada Banyak Negara yang Merdeka di Bulan Agustus
18 Agustus 2026 12:26
Hujan Ekstrem di Korea Selatan Tewaskan Satu Orang, Ratusan Warga Mengungsi
17 Agustus 2026 22:30
Terima Laporan Warga, Polisi Bakar Lokasi Diduga Tempat Sabung Ayam di Pakisaji Kabupaten Malang
17 Agustus 2026 21:00
Terekam CCTV Bawa Linggis, Pencuri Rumah Warga di Wagir Malang Diringkus Polisi
17 Agustus 2026 15:45
Jalan Sunyi Para Pahlawan, Jejak Para Tokoh Nasional yang Tutup Usia Sebelum Menikah
.png)