KETIK, JAKARTA – Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon bukan sekadar peninggalan sejarah.
Keempatnya memiliki nilai keagamaan, budaya, pendidikan, dan spiritual yang terus hidup hingga kini.
Pemanfaatan keempat candi tersebut juga semakin diarahkan sebagai ruang peribadatan sekaligus destinasi wisata religi dan spiritual bagi umat Hindu dan Buddha dari Indonesia maupun berbagai negara.
Candi Prambanan menjadi salah satu ruang penting bagi umat Hindu untuk menjalankan kegiatan keagamaan dan Tirtha Yatra.
Sementara Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon memiliki keterkaitan kuat dengan kegiatan peribadatan dan Dharmayatra umat Buddha.
Keempat candi tersebut menjadi bagian dari kawasan warisan budaya yang mempertemukan sejarah, arsitektur, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat.
Karena itu, kunjungan ke kawasan candi tidak hanya menawarkan pengalaman melihat bangunan bersejarah, tetapi juga kesempatan untuk memahami jejak peradaban dan tradisi keagamaan yang masih berlangsung.
Candi Prambanan, misalnya, terus dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan umat Hindu.
Salah satunya melalui Upacara Tawur Agung Kesanga. Pada 2024, kegiatan tersebut diperkirakan diikuti sekitar 10.000 umat.
Pemanfaatan kawasan Prambanan juga berkembang melalui kegiatan lain, termasuk Saka Yoga Festival ke-8 yang melibatkan lebih dari 500 peserta.
Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya Buddha yang menjadi destinasi wisata sejarah, budaya, dan spiritual. Kawasan ini juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan keagamaan dan Dharmayatra umat Buddha dari Indonesia maupun mancanegara. (Foto: Getty Images)
Sementara itu, Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon menjadi ruang penting bagi kegiatan keagamaan umat Buddha.
Ketiga candi tersebut terus digunakan dalam berbagai kegiatan peribadatan dan Dharmayatra.
Pada 2025, berbagai kegiatan keagamaan Buddha di kawasan Borobudur, Mendut, dan Pawon diikuti 33.556 peserta, termasuk umat dari luar negeri.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 24.894 peserta.
Candi Mendut merupakan bagian dari kawasan candi Buddha yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan keagamaan di sekitar Borobudur. Kawasan ini juga menjadi salah satu tujuan wisata sejarah, budaya, dan spiritual bagi umat Buddha. (Foto: Berita Magelang)
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan keberadaan empat candi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga mampu menjadi ruang spiritual bagi umat.
“Ke depan kami ingin Prambanan, Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon tidak hanya menjadi destinasi yang dikunjungi, tetapi menjadi pusat spiritualitas dunia, tempat umat beribadah dengan khidmat. Karena itu, saya mengajak seluruh pihak untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian,” ujar Nasaruddin, Kamis, 17 September 2026.
Nilai spiritual tersebut berjalan beriringan dengan fungsi candi sebagai ruang pembelajaran sejarah dan kebudayaan.
Pengunjung dapat melihat bagaimana warisan arsitektur masa lalu tetap memiliki keterkaitan dengan kehidupan keagamaan masyarakat masa kini.
Keempat kawasan candi juga diarahkan menjadi pusat pengembangan wisata religi, kebudayaan dan keagamaan, sekaligus ruang riset dan inovasi di bidang agama, sejarah, seni, dan budaya.
Pengembangan wisata di kawasan tersebut juga diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Aktivitas kunjungan, kegiatan keagamaan, serta berbagai kegiatan kebudayaan dapat membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat lokal.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno mengatakan kawasan candi dapat menjadi ruang pertemuan antara agama, ilmu pengetahuan, budaya, dan aktivitas perekonomian masyarakat.
“Oleh karena itu, kami mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga agar seluruh umat dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk. Wisatawan dapat menikmati warisan sejarah dan warisan budaya dengan pengalaman yang penuh makna, sementara masyarakat sekitar, ekonomi daerah, bahkan ekonomi nasional dapat tumbuh,” kata Pratikno.
Pemanfaatan candi sebagai ruang ibadah dan destinasi wisata religi tersebut dituangkan dalam pembaruan nota kesepahaman yang mencakup Candi Prambanan untuk peribadatan umat Hindu serta Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon untuk peribadatan umat Buddha.
Kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan Tirtha Yatra Hindu dan Dharmayatra Buddha, promosi wisata religi dan budaya, pemberdayaan masyarakat, serta pelestarian candi sebagai cagar budaya dan warisan bangsa.(*)
