Penderita Demensia Bisa Membutuhkan Pengawasan 24 Jam, Keluarga Perlu Bersiap

24 Oktober 2026 18:40 24 Okt 2026 18:40

Thumbnail Penderita Demensia Bisa Membutuhkan Pengawasan 24 Jam, Keluarga Perlu Bersiap

Ilustrasi perawatan demensia. (Foto: Pexels)

KETIK, JAKARTA – Perawatan orang dengan demensia (ODD) tidak berhenti setelah dokter menetapkan diagnosis. Seiring perkembangan penyakit, penderita dapat membutuhkan bantuan yang semakin intensif, mulai dari menjalankan aktivitas sehari-hari hingga pengawasan selama 24 jam.

Kondisi tersebut membuat keluarga perlu menyiapkan perawatan jangka panjang sejak dini. Persiapan mencakup pembagian tanggung jawab, pembiayaan, penyesuaian lingkungan rumah, serta dukungan agar penderita tetap menjalani aktivitas yang sesuai dengan kemampuannya.

Dosen Keperawatan Jiwa dan Komunitas Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng., menjelaskan bahwa perawatan ODD melibatkan caregiver informal dan formal.

Caregiver informal meliputi anggota keluarga dan tetangga, sedangkan caregiver formal terdiri atas tenaga profesional, seperti perawat, dokter, dan ahli gizi. Keduanya memiliki peran dalam membantu ODD mempertahankan kemandirian, produktivitas, dan kualitas hidup setelah menerima diagnosis.

“Jadi, bukan berarti setelah terdiagnosis itu end of the world. Setelah diagnosis, keluarga tetap harus mendukung melibatkan orang dengan demensia atau yang biasa disebut ODD, untuk tetap aktif. Kita juga tetap melibatkan dalam kegiatan-kegiatan keluarga, membantunya melakukan hobinya,” ujarnya.

Menurut Sri, keluarga perlu memahami bahwa diagnosis demensia bukan berarti penderita harus langsung kehilangan kesempatan untuk terlibat dalam kehidupan sehari-hari. Selama masih memungkinkan, keluarga dapat mengajak ODD mengikuti kegiatan bersama dan membantu mereka menjalankan hobi.

 

Persiapan Perawatan Perlu Dilakukan Sejak Awal

Demensia merupakan kondisi progresif yang dapat memburuk seiring waktu, meskipun kecepatan perkembangannya berbeda pada setiap orang. Karena itu, keluarga perlu mempertimbangkan kemungkinan perubahan kebutuhan perawatan sebelum kondisi penderita semakin berat.

Pada tahap tertentu, ODD mungkin membutuhkan bantuan untuk aktivitas dasar, seperti mandi dan makan. Keluarga juga perlu mengantisipasi kemungkinan perlunya pengawasan sepanjang hari agar penderita tetap aman.

Perencanaan jangka panjang mencakup pembagian tugas antaranggota keluarga, kesiapan biaya, serta pembicaraan mengenai keinginan pribadi ODD terkait perawatan dan kepemilikan harta benda. Persiapan tersebut dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih terarah ketika kebutuhan penderita berubah.

Selain dukungan keluarga, tenaga keperawatan dapat membantu menilai kebutuhan perawatan dan menyesuaikan lingkungan rumah. Keluarga, misalnya, dapat memasang penanda pada pintu toilet, meletakkan peralatan makan di lokasi yang mudah terlihat, serta menyimpan benda berbahaya di tempat terkunci.

Penyesuaian sederhana tersebut membantu ODD menjalankan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya. Keluarga juga dapat meminta arahan tenaga kesehatan untuk menentukan bentuk pendampingan yang sesuai dengan kondisi penderita.

 

Kesiapan Keluarga Perlu Didukung Layanan Kesehatan

Kebutuhan perawatan demensia tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga. Tenaga kesehatan dan layanan komunitas juga berperan dalam memberikan edukasi, membantu keluarga mengenali perubahan kondisi, serta mengarahkan pemeriksaan dan penanganan lanjutan.

Dosen UGM Sri Mulyani menilai bahwa pemahaman masyarakat mengenai demensia masih perlu diperkuat. Keluarga perlu mengetahui gejala yang perlu diperiksa dan memahami bahwa perubahan perilaku tidak selalu dapat dianggap sebagai bagian normal dari penuaan.

Deteksi dini memberi keluarga kesempatan untuk merencanakan perawatan sebelum penderita membutuhkan bantuan lebih intensif. Karena itu, pengenalan gejala perlu berjalan beriringan dengan persiapan perawatan jangka panjang.

Keluarga juga perlu mengetahui bahwa demensia tidak hanya berkaitan dengan daya ingat. Perubahan perilaku yang tidak biasa dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Di samping kesiapan perawatan, pencegahan faktor risiko sejak usia muda tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi demensia. Penguatan edukasi masyarakat dan layanan kesehatan juga diperlukan, terutama karena Indonesia masih belum memiliki data nasional yang jelas mengenai jumlah penderita demensia. (*)

Tombol Google News

Tags:

Perawatan Demensia Caregiver Demensia Keluarga Penderita Demensia Perawatan Lansia Orang Dengan Demensia Perawatan Jangka Panjang UGM