KETIK, JAKARTA – Pengembangan ekonomi daerah dan peningkatan kompetensi lulusan perguruan tinggi perlu berjalan beriringan untuk memperluas kesempatan kerja di Indonesia. Penguatan usaha lokal dapat membuka sumber penghasilan baru, sedangkan pendidikan perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja, termasuk berpikir kritis di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), R. Agus Sartono, menilai Indonesia memiliki potensi pasar domestik yang besar untuk mendorong kegiatan usaha di dalam negeri. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan agar penciptaan pekerjaan tidak hanya bergantung pada masuknya investasi asing atau pembangunan industri berskala besar.
Ekonomi Daerah Berpotensi Membuka Pekerjaan
Agus mencontohkan kegiatan ekonomi di desa yang dapat berkembang melalui usaha-usaha kecil. Ketika usaha lokal tumbuh, masyarakat memiliki peluang untuk terlibat dalam kegiatan produktif dan memperoleh penghasilan.
Perkembangan usaha di tingkat daerah juga berpotensi memperkuat perputaran uang di lingkungan setempat. Penghasilan yang diperoleh masyarakat dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan, sehingga ikut mendukung permintaan terhadap barang dan jasa yang ditawarkan pelaku usaha lokal.
Menurut Agus, pasar domestik yang besar perlu menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi. Pengembangan usaha di dalam negeri dapat memperluas sumber penghasilan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan penciptaan lapangan kerja pada investasi asing dan industri berskala besar.
Pendekatan tersebut bukan berarti mengesampingkan investasi asing. Namun, kebijakan ekonomi perlu memastikan bahwa pembangunan memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk melalui kegiatan usaha yang mampu menciptakan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Mahasiswa Perlu Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis
Selain memperluas kesempatan kerja, Agus menyoroti kesiapan lulusan perguruan tinggi menghadapi perubahan dunia profesional. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara berlebihan hingga mengurangi keterlibatan mereka dalam proses berpikir mandiri.
“Tidak apa-apa menggunakan ini, tapi menggunakan AI dan GPT itu justru akan merugikan diri sendiri, karena critical thinking skill-nya akan tergantikan oleh AI. Padahal untuk bekerja diperlukan anak seperti itu,” tuturnya.
Agus menilai kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah tetap penting bagi lulusan yang akan memasuki dunia kerja. Teknologi dapat membantu seseorang mencari informasi dan menyelesaikan tugas, tetapi penggunaannya perlu disertai kemampuan mengevaluasi informasi, memahami persoalan, dan menyusun argumen secara mandiri.
Ia juga menekankan pentingnya minat baca dan keterlibatan aktif mahasiswa dalam pembelajaran. Mahasiswa perlu mempelajari materi sebelum perkuliahan, mendiskusikan gagasan, serta menghubungkan pengetahuan dengan persoalan yang sedang dibahas.
Agus menerapkan metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa menyampaikan pendapat dan terlibat dalam diskusi kelas. Melalui proses tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan pemahaman, mempertanggungjawabkan gagasan, dan meningkatkan kemampuan komunikasi.
Peningkatan kompetensi menjadi salah satu upaya mempersiapkan lulusan menghadapi perubahan kebutuhan perusahaan. Namun, kesiapan individu tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan pengangguran apabila pertumbuhan lapangan kerja masih tertinggal dari jumlah pencari kerja.
Karena itu, penguatan kemampuan lulusan perlu berjalan bersama upaya memperluas kesempatan kerja. Pengembangan usaha lokal, pemanfaatan pasar domestik, dan peningkatan kualitas pembelajaran dapat saling mendukung dalam mendorong kegiatan ekonomi yang lebih produktif.
Tantangan ini juga berkaitan dengan kemampuan industri menyerap tenaga kerja. Otomatisasi dan perlambatan industrialisasi dapat membatasi pertumbuhan pekerjaan ketika kebutuhan tenaga manusia berkurang atau sektor industri tidak berkembang cukup cepat untuk menampung pencari kerja.
Selain itu, besarnya investasi belum tentu sejalan dengan banyaknya pekerjaan yang tercipta. Investasi yang bersifat padat modal dapat menghasilkan kegiatan ekonomi berskala besar, tetapi pemerintah tetap perlu memperhatikan kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat. (*)
