Bahaya Coercive Control, Kekerasan Psikologis yang Kerap Tersembunyi dalam Hubungan

6 Juli 2026 02:00 6 Jul 2026 02:00

Thumbnail Bahaya Coercive Control, Kekerasan Psikologis yang Kerap Tersembunyi dalam Hubungan

Ilustrasi penyekapan. (Freepik)

KETIK, BOGOR – Kasus dugaan penyekapan yang terjadi di Bandung kembali mengingatkan bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu meninggalkan bekas luka di tubuh. Penyekapan tersebut dilakukan oleh Taufik Hidayat (30), seorang debt collector atau penagih hutang, terhadap kekasihnya sendiri, YTR (29) selama tiga tahun.

Di balik hubungan yang tampak normal, seseorang bisa mengalami kontrol, manipulasi, hingga intimidasi secara terus-menerus yang membuatnya kehilangan kebebasan dan kendali atas hidupnya.

Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany, menjelaskan bahwa dalam psikologi kondisi tersebut dikenal sebagai coercive control atau kontrol koersif. Bentuk kekerasan ini berlangsung secara bertahap sehingga sering kali luput dikenali, baik oleh korban maupun orang-orang di sekitarnya.

Coercive control adalah pola perilaku manipulatif, intimidatif, dan ancaman yang membuat korban perlahan kehilangan kebebasan, rasa aman, kepercayaan diri, hingga kemampuan mengambil keputusan. Yang perlu dikenali bukan hanya satu kejadian, melainkan pola hubungan yang terus mengikis otonomi korban,” jelasnya.

Menurut Dr Yulina, konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Evan Stark itu dapat muncul dalam berbagai bentuk. Pelaku dapat mengisolasi korban dari keluarga maupun teman, mengontrol komunikasi dan media sosial, membatasi aktivitas, menguasai keuangan secara sepihak, hingga melakukan gaslighting yang membuat korban meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri.

Karena terjadi secara perlahan, perilaku tersebut kerap disalahartikan sebagai bentuk perhatian, kepedulian, atau kasih sayang dari pasangan.

Dr Yulina mengatakan banyak orang masih mempertanyakan alasan korban tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Padahal, menurutnya, persoalan tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar keinginan untuk pergi atau bertahan.

“Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah ‘Mengapa korban tidak pergi?’, melainkan ‘Faktor apa yang membuat korban sulit pergi?’ Korban sering menghadapi ketergantungan emosional, tekanan ekonomi, kekhawatiran terhadap anak, ancaman dari pelaku, hingga minimnya dukungan sosial,” ungkapnya.

Secara psikologis, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui teori attachment, fenomena trauma bonding, dan learned helplessness. Korban dapat membangun ikatan emosional yang kuat akibat siklus kekerasan yang diselingi permintaan maaf serta janji pelaku untuk berubah. Pengalaman dikendalikan secara terus-menerus juga membuat korban merasa tidak berdaya dan menganggap tidak ada tindakan yang mampu mengubah situasi.

Ia menambahkan, hubungan yang mengarah pada kekerasan psikologis umumnya berkembang perlahan sehingga sulit dikenali sejak awal. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain pasangan yang terlalu posesif, mengontrol pergaulan, meminta akses penuh terhadap ponsel dan media sosial, merendahkan pasangan, membuat korban terus merasa bersalah, menggunakan ancaman emosional, melakukan gaslighting, hingga love bombing yang kemudian berubah menjadi perilaku mengendalikan.

“Korban sering tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan psikologis karena perilaku tersebut berkembang sedikit demi sedikit dan dinormalisasi sebagai bentuk kepedulian,” ujarnya.

Menurut Dr Yulina, dampak kekerasan psikologis tidak kalah serius dibandingkan kekerasan fisik. Korban berisiko mengalami stres berkepanjangan, depresi, gangguan kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD). Manipulasi yang berlangsung terus-menerus juga dapat menghancurkan rasa percaya diri dan membuat korban kesulitan mengambil keputusan.

“Kekerasan psikologis dapat sama beratnya, bahkan dalam beberapa kasus lebih menetap dibandingkan kekerasan fisik. Korban menjadi sangat ragu terhadap dirinya sendiri dan kesulitan menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam membantu korban keluar dari situasi tersebut. Dukungan sebaiknya diberikan dengan mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi pengalaman korban, serta mendorong mereka mendapatkan pendampingan psikolog maupun bantuan hukum jika diperlukan.

“Korban membutuhkan dukungan, bukan penghakiman. Yang terpenting adalah membuat mereka merasa didengar, dipercaya, dan mengetahui bahwa mereka tidak sendirian menghadapi situasi tersebut,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Coercive Control Kekerasan Psikologis IPB University Dr Yulina Eva Riany Gaslighting Trauma Bonding Hubungan Tidak Sehat Penyekapan Bandung Pkga Ipb kesehatan mental