KETIK, BLITAR – RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar menjalani Pemeriksaan Kinerja Pendahuluan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Jawa Timur.
Pemeriksaan tersebut berfokus pada upaya rumah sakit memperkuat tata kelola yang ekonomis, efisien, dan efektif dalam mendukung optimalisasi pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Rabu, 9 September 2026.
Pemeriksaan berlangsung selama 30 hari kalender, mulai 31 Agustus hingga 29 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses BPK untuk memperoleh gambaran awal mengenai tata kelola serta pengelolaan pelayanan JKN di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dan instansi terkait.
Ruang lingkup pemeriksaan cukup luas. BPK antara lain menelaah data umum rumah sakit, tata kelola keuangan, pelayanan medik, sumber daya manusia hingga operasional.
Pada aspek pelayanan medik, pemeriksaan mencakup kendali mutu dan kendali biaya.
Sementara dari sisi keuangan, pemeriksaan mencakup perencanaan dan penganggaran, pengelolaan pendapatan dan belanja, pengelolaan klaim JKN, tarif serta unit cost pelayanan.
BPK juga melihat penerapan Panduan Praktik Klinis dan Clinical Pathway serta sejumlah indikator pelayanan.
Pada aspek sumber daya manusia, pemeriksaan mencakup perencanaan kebutuhan SDM dan remunerasi.
Sedangkan tata kelola operasional meliputi pengelolaan KSO/KSM, Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), sarana prasarana, aset, obat hingga Bahan Medis Habis Pakai (BMHP).
Selain pemeriksaan dokumen dan data pendukung, BPK Perwakilan Jawa Timur juga melakukan pemaparan bersama pejabat terkait di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
Pemaparan tersebut membahas proses bisnis tata kelola keuangan, pelayanan medik dengan fokus kendali mutu dan biaya, tata kelola SDM serta operasional selama 2025 dan Semester I 2026.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr. Endah Woro Utami, mengatakan pihaknya mendukung pelaksanaan pemeriksaan tersebut.
Ia memastikan rumah sakit akan memberikan data dan informasi yang dibutuhkan secara lengkap, terbuka dan sesuai ketentuan.
“Kami mendukung sepenuhnya pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja Pendahuluan oleh BPK Perwakilan Provinsi Jawa Timur,” ujar Endah.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting bagi rumah sakit untuk mengevaluasi tata kelola yang selama ini berjalan.
Sekaligus mengidentifikasi berbagai ruang perbaikan untuk meningkatkan kinerja rumah sakit.
“Bagi kami, pemeriksaan ini menjadi bagian penting dalam melakukan evaluasi terhadap proses tata kelola yang telah berjalan sekaligus mengidentifikasi ruang-ruang perbaikan untuk meningkatkan kinerja rumah sakit,” lanjutnya.
Endah menegaskan tata kelola rumah sakit tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan aspek administratif.
Lebih dari itu, seluruh sumber daya yang dimiliki harus dikelola secara ekonomis, efisien dan efektif agar memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Terutama bagi peserta JKN yang mendapatkan pelayanan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
“Kami berkomitmen untuk terus membangun tata kelola yang akuntabel dan transparan,” tegasnya.
Ia menambahkan, setiap hasil evaluasi dan masukan dari proses pemeriksaan akan menjadi bahan perbaikan rumah sakit.
Perbaikan tersebut mencakup pengelolaan keuangan, pelayanan kesehatan, sumber daya manusia maupun operasional.
“Setiap proses evaluasi dan masukan yang diperoleh melalui pemeriksaan ini akan menjadi bahan bagi kami untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan, baik dalam pengelolaan keuangan, pelayanan, SDM maupun operasional rumah sakit,” tambah Endah.
Pemeriksaan kinerja pendahuluan BPK diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai pelaksanaan tata kelola di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
Hasil evaluasi tersebut juga diharapkan mendorong pengelolaan pelayanan JKN yang semakin efektif dan efisien.
Bagi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, penguatan tata kelola menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Komitmen terhadap tata kelola yang akuntabel, transparan, ekonomis, efisien dan efektif pun menjadi salah satu fondasi dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin optimal.
