KETIK, BLITAR – Kilatan lampu sorot membelah gelapnya malam di Dusun Sekardangan, Desa Papungan, Kabupaten Blitar. Dentuman musik dari puluhan truk sound horeg menggetarkan udara, sementara ribuan watt suara berpadu dengan semarak festival yang berlangsung hingga malam.
Namun, di balik gegap gempita itu, ada tujuan yang lebih bermakna. Perayaan ulang tahun ke-2 Team Kejut Faskho Sengox Audio Blitar kali ini dikemas sebagai kegiatan amal untuk membantu pembangunan makam di Dusun Sekardangan.
Festival tersebut menghadirkan lebih dari 30 truk sound dari berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan Jawa Tengah. Mereka datang bukan sekadar meramaikan panggung, tetapi juga menyatukan semangat komunitas dalam kegiatan sosial.
Pemilik Faskho Sengox Audio, Syaiful Aziz, yang akrab disapa Mbah Sengox, mengatakan seluruh pendapatan dari tiket masuk dan parkir akan disumbangkan untuk pembangunan makam warga.
“Hasil dari pendapatan acara ini, entah itu parkir maupun tiket masuk, akan disumbangkan untuk pembangunan makam di Dusun Sekardangan,” ujar Mbah Sengox.
Ada hal berbeda dalam festival kali ini. Di tengah stigma negatif yang kerap melekat pada gelaran sound horeg, Faskho Sengox memilih menggelar acara tanpa dancer atau penari dan tanpa alkohol maupun minuman keras.
“Kali ini kami sengaja mengadakan acara amal tanpa dancer, tanpa alkohol atau miras. Kami berkomitmen menjaga aturan yang ada sekaligus menghapus stigma negatif di masyarakat,” tegasnya.
Mbah Sengox menjelaskan, para peserta yang hadir merupakan bagian dari jaringan Faskho Sengox Audio. Sebagian besar tim tersebut sebelumnya merakit sistem suara mereka di Faskho Blitar.
“Alhamdulillah, acara berlangsung meriah. Diikuti lebih dari 30 truk partisipan dari jaringan Faskho berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan ada yang dari Jawa Tengah,” katanya.
Jadi contoh festival sound horeg yang tertib
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar, Fatatoh Hironi Ulya, yang hadir langsung di lokasi, mengapresiasi penyelenggaraan festival tersebut. Ia menilai kegiatan itu berpotensi menjadi contoh bagi daerah lain, terutama dalam menggabungkan hiburan, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap aturan.
“Alhamdulillah, acara sangat meriah. Kami memantau langsung, acara sound kali ini dapat dijadikan ajang percontohan di daerah lain, khususnya di Kabupaten Blitar,” ujarnya.
Menurut Fatatoh, penyelenggara telah menunjukkan bahwa festival sound horeg bisa digelar dengan pendekatan yang lebih tertib dan bertanggung jawab.
“Untuk event kali ini tanpa dancer atau penari, tanpa miras atau alkohol, mengikuti aturan-aturan sesuai MUI dan aturan dari Pemkab Blitar,” katanya.
Ia berharap ke depan muncul asosiasi atau paguyuban yang mampu membina para penari dalam gelaran sound horeg. Pembinaan tersebut, menurutnya, perlu diarahkan agar pertunjukan tidak terkesan erotis sebagaimana anggapan sebagian publik, sekaligus membuka ruang bagi potensi kesenian daerah.
“Harapannya, ke depan ada asosiasi maupun paguyuban yang mewadahi untuk membina dancer atau penari, mengarahkan agar tidak terkesan erotis seperti anggapan publik, namun dapat memunculkan potensi-potensi kesenian daerah,” tuturnya.
Di Sekardangan, malam itu dentuman bass bukan hanya menjadi penanda sebuah perayaan. Di balik sorot lampu dan riuh penonton, ada ikhtiar komunitas sound horeg untuk membangun citra yang lebih positif sekaligus mengubah kemeriahan menjadi manfaat bagi warga.
