KETIK, BATU – BPBD Kota Batu menyisir dan membersihkan 109 titik rawan penyumbatan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas sejak Juni hingga 12 Agustus 2026 sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi banjir saat musim penghujan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan, penyisiran dilakukan dengan memetakan sekaligus membersihkan berbagai material yang berpotensi menghambat aliran sungai dan memicu terbentuknya bendung alam.

“Dari rangkaian kegiatan yang kita mulai sejak Juni dan selesai 12 Agustus kemarin, tim berhasil mengidentifikasi dan membersihkan 109 titik rawan,” ujarnya, Senin, 24 Agustus 2026.

Menurutnya, 109 titik tersebut tersebar di enam kawasan sungai. Setiap lokasi memiliki jenis kerawanan berbeda, mulai dari kayu tumbang, rumpun bambu, longsoran, hingga munculnya aliran sungai baru.

Di kawasan Sumber Darmi, tim menemukan 16 titik kayu tumbang dan satu titik longsor. Kawasan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya pernah diterjang banjir bandang yang turut berdampak pada jaringan air bersih milik Perumdam Among Tirto.

Baca Juga:
Nostalgia di MTs Hasyim Asy'ari, Wali Kota Batu Cak Nur Kenang Jasa Kiai dan Para Guru

“Tim gabungan memetakan sekaligus membersihkan sejumlah titik yang berpotensi menjadi lokasi terbentuknya bendung alam,” kata Gatot.

Sementara itu, penyisiran di Sungai Krecek menemukan 27 titik rawan. Temuan tersebut meliputi 18 kayu melintang, satu rumpun bambu, tiga titik longsor, serta tujuh aliran sungai baru.

Di aliran Glagahwangi, tim menemukan 26 titik rawan. Rinciannya terdiri atas delapan kayu tumbang, 10 rumpun bambu, satu titik longsor, enam aliran baru, serta tumpukan sampah pertanian.

Temuan berikutnya berada di kawasan Sumber Brantas Pohon 8. Sebanyak 10 titik rawan ditemukan di lokasi tersebut, termasuk empat titik aliran yang terdampak longsoran.

Baca Juga:
Selamatan Desa Junrejo Penuh Makna, Wawali Kota Batu Puji Keterlibatan Pemuda Jaga Kebudayaan

Sedangkan di kawasan Coban Petung dan Pusung Lading, masing-masing ditemukan 28 titik rawan penyumbatan.

Gatot menjelaskan, pembersihan material tersebut merupakan langkah preventif BPBD Kota Batu untuk menghadapi musim penghujan. Upaya ini dilakukan dengan mempertimbangkan pengalaman bencana banjir bandang Bulukerto pada November 2021.

Saat itu, hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan hulu hingga menyebabkan bendung alam jebol. Air bah yang membawa material kayu dan lumpur kemudian menerjang kawasan permukiman warga.

“Langkah preventif ini diambil berkaca pada rekam jejak tragedi kelam banjir bandang Bulukerto pada November 2021 silam,” ungkapnya.

Karena itu, mitigasi dilakukan secara menyeluruh, termasuk menangani pepohonan yang melintang di badan sungai agar tidak menghambat arus air ketika debit meningkat.

“Mitigasi ini sifatnya menyeluruh. Pohon-pohon yang melintang kita potong-potong agar tidak menghalangi arus air, lalu disisihkan ke pinggiran sungai,” tuturnya.

Pemetaan dan pembersihan 109 titik tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi terbentuknya bendung alam serta memperlancar aliran sungai di kawasan hulu DAS Brantas ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.