KETIK, SLEMAN – Suasana Atrium Utama Jogja City Mall mendadak semarak. Pemerintah Kabupaten Sleman bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sleman, Jumat 9 Oktober 2026 resmi membuka pameran Sleman Halal Fashion & Craft (SHFC) 2026 yang dikolaborasikan dengan perhelatan Jogja Fashion Rendezvous (JFR) 2026.
Mengusung tema "Cahaya Nusantara", perhelatan ini dibuka secara resmi melalui pemukulan gong oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa. Inisiatif ini digulirkan untuk memperkuat ekosistem industri kreatif sekaligus mendorong para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) lokal agar siap bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Acara yang terintegrasi dengan Sleman Creative Weeks 2026 serta perayaan Hari Batik Nasional dan Hari Batik Sedunia ini dirancang bukan sekadar pameran visual semata, melainkan sebagai strategi menyeluruh untuk meningkatkan kapasitas serta daya saing para pelaku usaha.
Ketua Harian Dekranasda Sleman sekaligus Kepala Disperindag Sleman, Dwi Wulandari, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini dihadirkan sebagai ruang produktif bagi para pengrajin dan pelaku usaha lokal untuk mempertemukan pelestarian budaya, kreativitas, peningkatan kapasitas IKM, perluasan jejaring, dan pengembangan pasar.
"Kami memiliki harapan besar agar kegiatan ini memberikan tindak lanjut nyata berupa penguatan branding, inovasi, dan kesiapan IKM untuk terus berkembang secara berkelanjutan," tutur Dwi.
Baca Juga:
Antisipasi Banjir Musim Hujan, Pemkab Sleman Siagakan Tim Teknis dan Peta Wilayah RawanSementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menjelaskan pentingnya industri fashion dan kriya dalam memberikan dampak ganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah melalui perpaduan tradisi dan modernitas. Ia menyebutkan bahwa di dalam karya fashion terdapat gagasan, kreativitas, keterampilan, serta identitas budaya yang dapat dikemas menjadi karya bernilai tinggi.
"Di balik sebuah karya terdapat proses panjang yang melibatkan desainer, pengrajin, penjahit, hingga tenaga pemasaran yang mampu menciptakan lapangan kerja baru," tegas Danang.
Ia juga menambahkan pentingnya memegang teguh filosofi tradisi dalam berbusana. "Mengutip ajaran leluhur kita, filosofi Jawa 'Ajining rogo soko busono' merupakan cerminan bahwa busana adalah perwujudan kehormatan diri sekaligus sarana pendukung pelestarian budaya bangsa," tambahnya.
Baca Juga:
Bupati Sleman Tekankan Prinsip Manjing Ajur Ajer saat Lantik 5 Lurah BaruMomen pembukaan kian meriah tatkala Wakil Bupati Sleman bersama jajaran pimpinan Dekranasda dan Disperindag Sleman tampil memukau di panggung catwalk dengan mengenakan batik khas Sleman. Penampilan tersebut menjadi bentuk apresiasi dan dukungan nyata secara langsung terhadap karya-karya desainer serta pengrajin IKM lokal.
Agenda SHFC dan JFR 2026 ini turut dihadiri perwakilan Dekranasda DIY, pengurus Dekranasda Kabupaten/Kota se-DIY, serta perancang busana kenamaan seperti Ella Muwafiq. Sinergi lintas sektor ini menjadi wujud kontribusi nyata Kabupaten Sleman dalam memperkuat ekosistem batik dan mendukung Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.
Pameran SHFC 2026 sendiri berlangsung hingga 11 Oktober 2026. Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap produk fashion, batik, dan kriya lokal semakin dikenal luas, mampu menjangkau pasar yang lebih besar, serta memperkuat kontribusi IKM terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengembangan industri kreatif daerah. (*)