Menjadi Mang Santri itu selain belajar membaca kitab, menghafal nadzam, atau mengaji di hadapan kiai. Menjadi Mang Santri itu juga adalah proses menempa diri agar kelak mampu menjaga agama, memuliakan sesama, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Di pesantren, Mang Santri belajar bahwa ilmu harus berakar pada adab, kecerdasan harus dibimbing akhlak, dan cita-cita harus berjalan bersama keikhlasan.
Menguatkan akar tradisi berarti menjaga warisan luhur para ulama tanpa kehilangan keberanian menghadapi perubahan zaman. Kita mengenang perjuangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Resolusi Jihad selain dengan mengibarkan bendera atau menggelar upacara, juga dengan meneruskan semangatnya melalui perjuangan yang nyata.
Jika dahulu para ulama dan santri berjuang mempertahankan kemerdekaan, hari ini santri harus berjihad melawan kebodohan, kemalasan, kemiskinan, ketidakjujuran, dan ketergantungan.
Jihad santri masa kini dimulai dari hal-hal sederhana: bersungguh-sungguh mengaji, menghormati guru, menjaga kebersihan pesantren, disiplin menjalankan amanah, berani mengakui kesalahan, serta tekun mengembangkan keterampilan.
Baca Juga:
Link Download Logo Resmi Hari Santri 2026 Kemenag dan PBNUSantri tidak cukup hanya pandai berbicara tentang kemandirian; ia harus belajar bekerja, berusaha, mengelola waktu, bertanggung jawab, dan menyelesaikan persoalan. Tidak cukup mencintai pesantren dalam ucapan; kecintaan itu harus tampak dalam kesediaan merawat lingkungan, membantu sesama, dan menjaga nama baik almamater.
Di tengah perubahan zaman, Mang Santri harus tetap kokoh dalam akidah, teguh dalam ibadah, santun dalam pergaulan, sekaligus terbuka terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan kewirausahaan.
Mang Santri Jadul ingin melahirkan santri yang tidak tercerabut dari akar tradisi, sekaligus juga tidak tertinggal oleh kemajuan. Ingin Mang Santri kini yang mampu membaca kitab kuning sekaligus membaca realitas kehidupan; yang tangannya terampil bekerja, pikirannya terbuka, hatinya tawadhu, dan hidupnya diabdikan untuk kemaslahatan umat.
Menjaga keutuhan negeri pun dimulai dari diri sendiri. Santri harus menjadi penyejuk ketika masyarakat terpecah, penjaga persaudaraan ketika perbedaan dipertentangkan, serta pembawa manfaat ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama.
Baca Juga:
Ribuan Santri Muhammadiyah Digembleng KSMN di Coban Rondo, Bupati Malang: 40 Tahun Lagi Kalian Memimpin Indonesia Semangat hubbul wathan minal iman harus hadir dalam perilaku yang jujur, kepedulian sosial, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesungguhan membangun bangsa.
Sebagai Mang Santri kini, jangan pernah merasa kecil hati karena hidup sederhana di pesantren. Dari kesederhanaanlah tumbuh keteguhan, dari kedisiplinan lahir tanggung jawab, dari khidmah tumbuh keikhlasan, dan dari kesungguhan belajar terbuka jalan menuju masa depan. Jadilah santri yang tidak hanya ingin menjadi orang besar, tetapi juga berusaha menjadi orang yang besar manfaatnya.
Mari kita rawat tradisi pesantren, kita kuatkan ilmu dan akhlak, kita bangun kemandirian, serta kita lanjutkan perjuangan para muassis Nahdhatul Ulama dengan karya nyata. Selalu patuh kepada kiai. Sebab, santri yang hebat itu, dia yang mampu menjaga warisan masa lalu, sekaligus ia sanggup menjadikan warisan itu sebagai kekuatan untuk memperbaiki masa depan.
Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri. Dengan cinta, doa, dan harapan untuk seluruh santri Indonesia.(*)
*) Dian Wildan Hilmi adalah Alumni Ponpes Al-Musri Cianjur Jawa Barat
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id
Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
Panjang naskah maksimal 800 kata
Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
Hak muat redaksi.(*)