KETIK, SLEMAN
– Pemerintah Kabupaten Sleman terus mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan penampungan dan pengelolaan air hujan sebagai alternatif sumber air bersih serta layak minum.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sleman, Makwan, mengimbau warga agar tidak ragu memanfaatkan potensi air hujan.
"Sri Sultan saja kerso ngunjuk air hujan, masa masyarakat ragu? Air hujan itu murni dan bebas dari bakteri E. coli. Di masjid dekat rumah saya bahkan sudah menampung air hujan sampai kapasitas 25 ribu liter untuk kebutuhan jamaah dan warga," tegas Makwan, Senin 14 September 2026.
Imbauan tersebut ia sampaikan menyusul aksi nyata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Raja Keraton Yogyakarta tersebut mencicipi langsung air hujan hasil olahan saat mengunjungi Stan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman pada saat pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 di bekas Pabrik Gula Beran, Kabupaten Sleman, Minggu 13 September 2026.
Momen menarik saat Sri Sultan meminum air hasil olahan Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya dan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa. Serta menyedot perhatian para pengunjung festival kebudayaan ini.
Relawan SAH Banyu Bening Sleman, AJ Purwanto, menyampaikan bahwa dukungan penuh dari Ngarsa Dalem menjadi penguat moral bagi komunitas untuk terus mengedukasi masyarakat.
Menurutnya air hujan yang ditampung dan dikelola melalui sistem ISLAH serta proses elektrolisa terbukti meningkatkan mutu air sehingga aman dan layak dikonsumsi.
Melalui percontohan di Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 ini, keberanian Sri Sultan mengonsumsi air hujan olahan diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat.
Pemanfaatan air hujan berbasis komunitas dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan air mandiri, mengurangi ketergantungan pada air tanah, serta mencegah air terbuang sia-sia sebagai limpasan permukaan saat musim kemarau. (*)