KETIK, GRESIK – Dugaan penutupan saluran pengairan akibat aktivitas pengurukan di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, berdampak pada tambak milik warga kawasan Mengare, Desa Watuagung, Kecamatan Bungah.
Salah seorang petambak mengaku mengalami kerugian hingga Rp150 juta setelah sejumlah ikannya ditemukan mati.
Persoalan tersebut memicu protes sejumlah warga.
Mereka mendatangi kawasan JIIPE dengan membawa spanduk berisi aspirasi untuk menyampaikan keberatan atas dugaan tertutupnya saluran air atau susur sungai yang selama ini menjadi akses utama pengairan tambak masyarakat, Minggu, 1 November 2026.
Salah seorang warga, Abdul Malik, mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan apabila lahan tambak yang sudah dibebaskan atau dijual kepada pengelola kawasan industri dilakukan pengurukan.
Baca Juga:
Warga Tiga Desa di Mengare Gresik Pasang Spanduk Protes Pengurukan Kawasan IndustriNamun, ia keberatan apabila aktivitas tersebut berdampak pada tambak yang masih menjadi milik masyarakat dan belum dibebaskan.
“Saya sebenarnya tidak masalah jika tambaknya sudah terjual itu, diurug. Tapi inikan kan belum terjual. Dalam kontrakan saya,” ujar Malik.
Malik memperlihatkan kondisi tambaknya yang terdampak dugaan terhentinya aliran air.
Ia juga menunjukkan sejumlah ikan yang ditemukan mati dan diduga berkaitan dengan terganggunya pasokan air ke tambak miliknya.
Baca Juga:
259 Gerai Koperasi Merah Putih di Gresik Rampung, 190 Koperasi Jadi Sasaran VerifikasiKerugian akibat kejadian tersebut ditaksir mencapai Rp150 juta. Kondisi ini membuat Malik dan petambak lainnya khawatir terhadap keberlangsungan usaha budidaya perikanan yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka.
Saluran air tersebut selama ini memiliki peran penting untuk memenuhi kebutuhan air tambak di kawasan Mengare.
Sejumlah tambak milik masyarakat masih aktif digunakan untuk kegiatan budidaya perikanan.
Warga menduga terhentinya aliran air berkaitan dengan aktivitas pengurukan di wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE.
Dalam rekaman video yang beredar, terlihat sejumlah warga mendatangi lokasi saluran yang diduga telah tertutup material urukan.
Mereka menilai aktivitas pengurukan semestinya tidak sampai mengganggu tambak masyarakat yang belum masuk dalam proses pembebasan lahan.
Warga pun meminta pengelola KEK JIIPE memberikan penjelasan mengenai dugaan penutupan saluran tersebut.
Mereka berharap aliran air dapat segera dipulihkan agar kegiatan budidaya perikanan tidak semakin terganggu dan kerugian petambak tidak bertambah.(*)