KETIK, SLEMAN – Pemandangan tidak biasa tampak di kawasan Embung Jetis Suruh, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, pada Sabtu pagi ini. Ratusan warga setempat, pelajar sekolah, aktivis lingkungan, hingga pejabat Pemkab Sleman melepas sepatu formal mereka dan memilih turun langsung ke badan sungai.
Aksi gotong royong ini merupakan bagian utama dari perhelatan Gerakan Cinta Air 2026 yang diinisiasi oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman. Mengusung tema "Setetes Kebaikan untuk Bumi", acara ini sengaja dirancang agar jauh dari kesan seremoni formal di atas kertas dan benar-benar menyentuh akar rumput.
Tepat sejak pukul 07.00 WIB, para relawan sudah sibuk menyingkirkan tumpukan sampah plastik, endapan lumpur, serta ranting pohon yang sempat menghambat kelancaran laju air sungai.
Begitu urusan bersih-bersih sungai rampung, suasana di sekitar area embung langsung terpecah ke dua titik keramaian. Di area Joglo bagian atas yang sejuk, sebanyak 50 anak-anak tingkat sekolah dasar tampak sangat asyik menggoreskan pensil warna dalam lomba mewarnai. Aksi kreatif anak-anak ini sekaligus menjadi ajang kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) guna menanamkan kesadaran pentingnya gizi keluarga serta kecintaan pada kelestarian lingkungan hidup sejak usia dini.
Sementara itu, riak air di tengah embung mendadak bergolak oleh aksi seru 50 orang pemancing dari berbagai komunitas lokal. Para pemancing yang datang dari berbagai wilayah, mulai dari kawasan Sleman hingga Bantul, sibuk beradu tangkas memburu keberadaan ikan-ikan invasif di dalam air. Kompetisi mancing ini sengaja diadakan sebagai bentuk langkah pengendalian biologis guna menyelamatkan populasi ikan lokal endemik dari amukan predator air yang merusak keseimbangan rantai makanan.
Baca Juga:
Raih Platinum Award IITA 2026, BPR Bank Sleman Terus Dorong Inovasi DigitalMemasuki pertengahan agenda, acara ditandai secara simbolis dengan pelepasan 50 kilogram benih ikan endemik seperti nilem dan tawes ke aliran Sungai Gayam. Simbolis penyerahan bibit ikan wader turut diserahkan langsung kepada jajaran pengurus komunitas Wader Cakul Jogja (WCJ). Tidak ketinggalan, sejumlah papan larangan dipasang di sisi timur embung guna memperingatkan warga masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan atau mencemari kawasan Daerah Aliran Sungai.
Gagas Pembenihan Udang Kali dan Menghidupkan Tradisi Gogoh Urang
Ketua Komisi C DPRD Sleman, Bambang Sigit Sulaksono ST, yang hadir langsung di lokasi, memberikan apresiasi tinggi terhadap kekompakan warga akar rumput ini.
"Kekompakan dan kepedulian seperti inilah yang menjadi modal utama kita dalam menjaga alam. Program pelestarian air dan perikanan yang kita rintis bersama tokoh-tokoh daerah seperti Pak Makwan dan Pak Danang Maharsa harus terus dijaga keberlanjutannya demi masa depan kawasan hulu Sleman," ujar Bambang Sigit saat memberikan keterangannya di lokasi.
Apresiasi senada disampaikan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sleman, Makwan STP MT, yang hadir mewakili Bupati Sleman Harda Kiswaya. Ia menekankan pentingnya menjaga fungsi ekosistem perairan darat secara konsisten.
"Air bukan sekadar elemen pendukung kehidupan sehari-hari, melainkan urat nadi peradaban dan ketahanan pangan kita. Lewat gerakan nyata ini, kita ingin kepedulian terhadap Daerah Aliran Sungai terus mengakar kuat di seluruh lapisan masyarakat Sleman," tutur Makwan saat membacakan arahan Bupati Sleman.
Lebih lanjut, Makwan melempar gagasan segar terkait potensi besar perairan Sleman yang dekat dengan destinasi wisata ikonik Kaliurang.
Baca Juga:
Sambut Hari Sumpah Pemuda, Dispora Sleman Gembleng Karakter dan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda"Ke depan, Sleman tidak boleh hanya berpuas diri dengan pemijahan ikan wader semata. Kita harus berani merintis pusat pembenihan udang kali (urang). Jika pembenihan ini berhasil, tradisi kearifan lokal seperti gogoh urang atau menangkap udang dengan tangan kosong bisa kita hidupkan kembali sebagai daya tarik daya pikat edukasi dan wisata di kawasan hulu," tegas Makwan penuh optimisme.
Sementara itu, Kepala DP3 Sleman, Liem Astuti, SP MSi, mengungkapkan bahwa keberadaan embung dan sungai merupakan aset vital daerah yang harus dikelola dari hulu ke hilir.
"Embung Jetis Suruh dan jaringan DAS di sekitarnya memegang peran yang sangat strategis, baik sebagai penopang cadangan air baku maupun sebagai sarana pemberdayaan ekonomi warga. Melalui kegiatan hari ini, kami tidak hanya melakukan aksi konservasi lingkungan, tetapi juga memfasilitasi bazar UMKM perikanan dan pedagang lokal agar produk olahan ikan masyarakat bisa makin dikenal luas," jelas Liem Astuti.
Ia menambahkan bahwa perhelatan akbar yang melibatkan tak kurang dari 300 peserta lintas sektor termasuk instansi teknis Pemda DIY, DPUPKP dan DLH Sleman, akademisi UGM, Pokmaswas, hingga Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) menjadi bukti kuat bahwa pelestarian lingkungan membutuhkan kerja kolaboratif. Seluruh rangkaian perhelatan ini kemudian ditutup secara resmi menjelang waktu siang melalui sesi sarasehan interaktif bersama Guru Besar Perikanan UGM Prof Dr Ir Eko Setyobudi SPi MSi dan aktivis FKSS Sugito. (*)