KETIK, LEBAK – PT Lebak Niaga Perseroda terus meningkatkan kapasitas produksinya sejak mulai beroperasi secara efektif pada awal April 2026. Hingga akhir Juni, perusahaan milik daerah Kabupaten Lebak, Banten itu telah memproduksi hampir 1.000 ton gabah dan menargetkan dapat beroperasi penuh selama 24 jam dalam waktu dekat.
Direktur PT Lebak Niaga Perseroda, Ilham Akbar, mengatakan proses produksi dilakukan secara bertahap sejak perusahaan mulai beroperasi.
Menurutnya, peningkatan kapasitas terus berlangsung dari April hingga Juni.
"Produksi Lebak Niaga Perseroda mulai efektif sejak awal April. Namun saat itu belum berjalan 100 persen karena dilakukan secara bertahap. Dari April, Mei hingga Juni kapasitas produksi terus meningkat, dan sekarang sudah hampir mendekati 100 persen," ujar Ilham Akbar saat diwawancarai wartawan di ruang kerjanya, Rabu 8 Juli 2026.
Ia optimistis dalam waktu dekat seluruh fasilitas produksi dapat beroperasi secara maksimal.
Baca Juga:
Disnaker Lebak Edukasi Masyarakat Soal Perbedaan PKWT dan PKWTT"Mudah-mudahan pada Juli atau Agustus ini kita sudah bisa beroperasi selama 24 jam. Total produksi sampai Juni sudah mendekati 1.000 ton gabah, atau sekitar 900 sekian ton. Dari jumlah itu dihasilkan sekitar 600 sampai 700 ton beras," katanya.
Tidak hanya dari sisi produksi, Ilham juga mengungkapkan pemasaran beras produksi PT Lebak Niaga Perseroda menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Beras dengan merek Sawarna dan Multatuli disebut telah menguasai sebagian besar pasar di wilayah Rangkasbitung.
"Alhamdulillah, pemasaran beras Lebak Niaga dengan merek Sawarna dan Multatuli sudah menguasai hampir 80 persen pasar beras di Rangkasbitung. Memang kami belum bisa berekspansi ke kecamatan-kecamatan lainnya, tetapi untuk wilayah Rangkasbitung kami sudah bermitra dengan Toko Batam yang memiliki enam sampai tujuh outlet. Mereka kini menjadi distributor resmi produk-produk beras Lebak Niaga," jelasnya.
Baca Juga:
Pj Sekda Lebak Tekankan Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran 2027Meski demikian, Ilham mengakui pasokan bahan baku masih menjadi tantangan. Saat ini, sekitar separuh kebutuhan gabah perusahaan masih dipenuhi dari luar Kabupaten Lebak karena operasional pabrik dimulai setelah musim panen raya berakhir.
"Kalau gabah yang masuk ke Lebak Niaga, jujur saja, gabah lokal baru sekitar 40 sampai 50 persen. Sisanya masih kita datangkan dari luar Kabupaten Lebak. Kondisinya karena Lebak Niaga mulai beroperasi setelah masa panen raya lewat, sehingga stok gabah di Lebak sudah mulai menipis. Karena itu kami harus melakukan backup dari luar daerah," ungkapnya.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, PT Lebak Niaga Perseroda menargetkan peningkatan serapan gabah lokal pada musim panen raya tahun 2027.
"Target kami pada panen raya 2027 adalah meningkatkan serapan gabah lokal. Harapannya ke depan bisa mencapai 100 persen gabah lokal. Dengan begitu biaya produksi bisa lebih ditekan sehingga masyarakat Lebak bisa memperoleh beras berkualitas dengan harga yang semakin terjangkau," tuturnya.
Terkait harga pembelian gabah, Ilham menjelaskan bahwa Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) saat panen raya berada di angka Rp6.500 per kilogram. Namun setelah musim panen berakhir, harga di tingkat petani mulai mengalami kenaikan.
"HPP pemerintah untuk Gabah Kering Panen memang Rp6.500 per kilogram saat panen raya. Tetapi setelah masa panen selesai, harga mulai merangkak naik. Di Kabupaten Lebak sekarang bervariasi, mulai Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram, bahkan ada yang berada di kisaran Rp6.700 sampai Rp6.800. Persoalannya sekarang bukan hanya harga, tetapi juga ketersediaan gabah yang mulai menipis karena panen raya sudah lewat," katanya.
Karena itu, pihaknya akan memaksimalkan penyerapan gabah lokal pada musim panen mendatang secara bertahap.
"Kami akan terus mendorong agar pada panen raya 2027 serapan gabah lokal bisa meningkat, minimal 70 sampai 80 persen terlebih dahulu, kemudian bertahap hingga mencapai 100 persen. Harapan kami, seluruh beras yang diproduksi Lebak Niaga nantinya berasal dari gabah lokal Kabupaten Lebak," pungkasnya.(*)